Rabu, 06 Maret 2019

Perayaan yang Menggembirakan


HR Santa Maria Imakulata
Perayaan yang Menggembirakan

8 Desember merupakan hari yang istimewa bagi Keluarga Besar Oblat Maria Imakulata, sebab pada hari tersebut Gereja Universal merayakan Hari Raya Santa Maria Imakulata yang adalah pelindung Kongregasi OMI.

Sekilas Dogma Maria Immakulata
Praksis penghormatan kepada Maria Imakulata sudah berkembang dalam tubuh Gereja jauh sebelum Dogma Maria Imakulata definitif diserukan bagi Gereja, bahkan Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI) berdiri lebih dahulu daripada Dogma tersebut. Doktrin tentang kesucian Maria yang sejak lahir tidak bernoda dikembangkan oleh para Bapa Gereja Kuno pada abad Keempat. Sebutlah diantaranya Santo Ephrem, Santo Ambrosius dan Santo Agustinus, yang masing-masing memiliki pemikiran teologis bahwa Maria adalah suci dan tak bernoda.[1]
Seringkali Doktrin ini mendapat serangan balik karena Kitab Suci tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa Maria dikandung tidak bernoda. Dasar alkitabiah yang dapat menjelaskan keutamaan Maria ini bisa kita lihat dalam Injil Lukas 1:28 yaitu ungkapan malaikat Gabriel kepada Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan Menyertai Engkau.”
Bila melihat teks asli dari Injil Lukas Bahasa Yunani, frasa tersebut berbunyi κεχαριτωμενη (kecharitomene) yang berarti “yang diberkati”. Dalam terjemahan Latin (Vulgata) frasa tersebut diterjemahkan “gratia plena” yang berarti “penuh rahmat”. Frasa ini secara inplisit memberi kesaksian tentang keunggulan Maria yang diakui oleh Malaikat Gabriel yaitu “diberkati, penuh rahmat, atau dikaruniai”.  Dari teks ini, mau ditekankan peranan Allah yang menguduskan Maria dan secara khusus memilihnya untuk mengandung, melahirkan dan merawat Sang Juruselamat.
Dengan berpegang pada teks ini, banyak teolog yang mengungkapkan bahwa Maria memiliki segala rahmat yang diberikan Allah. Dari pemikiran bahwa Maria menerima rahmat penuh dari Allah, para teolog menarik bermacam-macam pemikiran misal bahwa Maria tidak berdosa, tidak membawa dosa asal, dikandung tanpa noda.[2]
Doktrin ini terus berkembang dengan pro dan kontranya melalui zaman ke zaman hingga puncaknya ketika berkembang gerakan doa yang berdevosi kepada Bunda Maria Imakulata dengan rumusan” O Maria yang dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang memohon pertolonganmu.”[3]
Barulah melalui Bulla Ineffabilis Deus pada 8 Desember 1854 yang dikeluarkan oleh Paus Pius IX, Gereja menghormati Maria secara definitif sebagai pribadi “Yang Terberkati” – “Yang Penuh Rahmat” – Yang suci dan Tak bernoda dan menjadikan Maria Imakulata sebagai salah satu Dogma dalam Gereja Katolik. Konsili Vatikan II pun menegaskan keutamaan yang dimiliki Maria ini. Dalam Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium dikatakan, “Maria yang menerima Yesus dalam rahimnya adalah suci seutuhnya dan tidak tercemar dosa mana pun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus.” (LG 56).

Maria Imakulata Bagi Kongregasi OMI
            Santo Eugenius de Mazenod-pendiri OMI, memiliki devosi yang kuat kepada Santa Perawan Maria sejak masa mudanya. Di masa-masa awal kongregasi OMI hadir, Santo Eugenius de Mazenod membiasakan komunitas untuk saling memberi salam dengan mengatakan “Terpujilah Yesus Kristus, dan Maria Imakulata”. Salam ini juga pernah digunakannya ketika mendampingi asosiasi kaum muda di Aix, juga dalam misi parokinya.[4]
Dalam Konstitusi dan Aturan Kongregasi OMI No.10 dikatakan, “Bunda Maria Tak Bernoda adalah pelindung Kongregasi.....Kita akan memandang Maria sebagai ibu kita, Dalam kedekatan yang mendalam dengan Maria, Bunda Belaskasih, kita menghayati penderitaan dan kegembiraan sebagai misionaris. Dalam Konstitusi dan Aturan ini terlihat peranan dan kedudukan Maria dalam Kongregasi OMI serta bagaimana seorang Oblat bisa meneladan hidup iman Maria.”[5]
Perlu diingat kendati menyandang nama Maria, spiritualitas yang paling utama dalam Kongregasi OMI adalah mewartakan Kristus yang tersalib. Maria Imakulata berperan sebagai pelindung karya misi dan hidup bakti OMI. Maria menjadi model persembahan diri Oblat, sebagaimana Maria mempersembahkan dirinya sendiri sebagai hamba Allah yang rendah hati.
Berkat kesucian yang diterimanya dari Allah, Maria menghadirkan Yesus Sang Allah Putera bagi dunia. Para Oblat yang menyandang nama Maria dengan penuh cinta dan rasa bangga juga menerima perutusan yang sama, yaitu untuk menerima rahmat kesucian Allah lewat pengudusan diri dan menjalankan karya misioner mewartakan Kabar Sukacita Yesus bagi mereka yang tidak terlayani.

Sebuah Perayaan yang Menggembirakan
            Merayakan Hari Raya Santa Maria Imakulata pada tanggal 8 Desember adalah sebuah momen untuk meneguhkan iman kita sebagai seorang beriman. Merayakan momen ini menegaskan kesadaran betapa besarnya peran Allah bagi keselamatan manusia. Allah pertama-tama memilih orang yang dikehendaki, menguduskannya, dan menjadikannya alat bagi Allah untuk membawa keselamatan dan semua itu nampak dalam diri Maria Imakulata yang dirayakan pada hari ini. Perayaan ini juga menjadi sebuah perayaan yang menggembirakan bukan karena semata-mata dirayakan dengan liturgi meriah, pesta besar ataupun hiruk-pikuknya, tetapi terutama karena dalam perayaan ini kita diingatkan siapa jati diri kita yang sejati.
            Melalui perayaan ini, kita semua diajak untuk mengingat kembali siapa jati diri kita yang sesungguhnya. Kita adalah para Oblat-Nya (baik religius maupun awam), dipilih dari tengah dunia, dikuduskan dengan berkat dan rahmat-Nya, serta diutus-Nya mewartakan kabar sukacita melalui perkataan maupun perbuatan kita. Kita diundang untuk melaksanakan karya perutusan yang dipercayakan kepada kita dengan penuh sukacita dan tanggung jawab, juga dengan perlindungan Bunda Maria Imakulata kita akan menerima kekuatan untuk mengatasi segala kesulitan yang kita hadapi.
            Bunda Maria Imakulata melindungi setiap karya hidup bakti kita, baik bagi para Imam yang menguduskan dunia lewat pelayanan sakramen, bagi para bruder dan suster yang membawa kesaksian hidup religius yang sejati serta melayani dunia dengan keahlian di bidangnya masing-masing, juga melindungi segenap Oblat Awam yang berjuang di tengah dunia memberi kesaksian hidup seorang Kristiani sejati yang penuh cinta kasih. Dengan peran dan panggilan yang kita miliki masing-masing, kita semua diajak untuk seperti Bunda Maria, menghadirkan Yesus bagi sesama.
            Sungguh momentum iman yang luar biasa. Semoga kita semua bisa menjadi berkat dan sukacita bagi setiap mahkluk yang kita jumpai. Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata.

Semoga kita mengerti dan menyadari siapa kita ini sesungguhnya! Saya berharap Tuhan akan menganugerahkan rahmat ini dengan bantuan dan perlindungan Bunda kita yang kudus, Maria Imakulata.” (Santo Eugenius de Mazenod).

-Skolastik Henrikus Prasojo, OMI-

Referensi:
O’Carrol, Michael
            1987    Theotokos: A Theological Encyclopedia of the Blessed Virgin Mary. Quezon
                      City: Claretian Publications.
Eddy Kristiyanto OFM, A
            1987    Maria Dalam Gereja. Yogyakarta: Kanisius.
Lembaga Alkitab Indonesia
            1989    Kitab Suci Perjanjian Baru Yunani-Indonesia. Jakarta: LAI.
Ciardi OMI, Fabio dkk
            2000    Dictionary of Oblate Values. Rome.
Asodo OMI, Henricus
            Draft Terjemahan Prancis-Indonesia Konstitusi dan Aturan Kongregasi OMI.
Hardawiryana SJ, R. (Penerjemah)
            2013    Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor.



[1] Michael O’Carrol. Theotokos: A Theological Encyclopedia of the Blessed Virgin Mary. (Quezon City: Claretian Publications, 1987). Hlm. 180
[2] A. Eddy Kristiyanto OFM. Maria Dalam Gereja. (Yogyakarta: Kanisius, 1987). Hlm. 39
[3] Michael O’Carrol. Hlm.182
[4] Fabio Ciardi OMI, dkk. Dictionary of Oblate Values. (Rome, 2000). Hlm. 535
[5] Henricus Asodo OMI (penerjemah). Draft terjemahan Prancis-Indonesia Konstitusi dan Aturan Kongregasi OMI.

Panggilan Apostolik di Era Digital


Hi my name’s Pras, 22-M-Yogyakarta and you? ASL Please? Hi my name’s Jesus, 33-M-Nazareth. Pernahkah anda sekalian melihat format text message/chat seperti ini? Format percakapan dunia maya ini diawali dengan memperkenalkan diri, lalu memberi informasi dengan urutan ASL- yang kepanjanganya adalah Age-Sex-Location. Ini adalah format text message  yang umum digunakan ketika seseorang ingin berkenalan dengan orang-orang baru lintas negara.
            Coba bayangkan ketika di kolom chat media sosial anda ada sebuah pesan masuk berbunyi, “Hi my name’s Jesus, 33-M-Nazareth, and you? ASL please…” bukankah kita akan tersentak dan kaget? Akankah kita menjawab pesan tersebut? Mengingat banyak sekali Hoax tersebar di media sosial, tentu anda akan membiarkan itu berlalu begitu saja, tidak membalasnya. Mungkin anda berpikir, itu hasil perbuatan orang iseng dan jahil saja yang sedang mencari sensasi.
            Namun saya membanyangkan bahwa mungkin saja, suatu saat hal semacam ini secara ajaib akan terjadi. Zaman ini sudah masuk era digital, orang-orang sudah sangat akrab dengan media sosial khususnya yang ada di gadget. Dunia maya telah merasuki dunia nyata dengan aneka informasi dan dinamikanya.
Tidak di Jakarta, tidak juga di Yogyakarta, saya melihat Pastor-Pastor Paroki menggunakan semacam Tablet Elektronik (Samsung/Apple) untuk dipakai selama Perayaan Ekaristi (entah untuk melihat TPE, atau membaca Injil). Lihat, bukankah akhirnya gadget sudah amat dekat dengan lingkungan Gereja? Gadget dan segala aplikasinya sudah masuk ke dalam kehidupan Gereja, bahkan sudah masuk ke dalam Liturgi Gereja, waw luar biasa. Ketika saya dan beberapa konfrater ikut misa lingkungan, Lektor dan Pastor membaca bacaan menggunakan gadget mereka masing-masing. Praktis memang, tapi rasanya kok….. hmmmm…….

Apakah Allah Mewahyukan Diri-Nya dalam Gadget dan teknologi manusia?
Teologi Katolik jelas sekali meyakini serta mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi diperlihatkan-Nya dengan perantaraan para Nabi (Kitab Suci PL) hingga akhirnya melalui Yesus Kristus- Allah yang menjadi manusia (Ibr. 1:1-2; bdk. Kon.Vat.II Dei Verbum Art 4, Par 1). Yesus sebagai Allah yang hadir di tengah manusia, bersabda dan mengatakan kepada manusia bagaimana hidup dalam Allah. Setelah karya keselamatan-Nya dalam misteri S-W-B (Sengsara-Wafat-Bangkit), pewahyuan diteruskan kepada para rasul yang hidup sezaman dengan-Nya, dan kini kita bisa mengenal pewahyuan-pewahyuan karena pewahyuan yang sudah dipenuhi dalam diri Yesus Kristus telah dituliskan dan diwariskan secara turun-temurun dalam Kitab Suci Deuterokanonika.
Sekarang ini, Kitab Suci pun sudah hadir dalam bentuk digital. Yang penting untuk diperhatikan dalam menanggapi fenomena ini adalah disposisi batin kita sebagai orang yang diberi Wahyu Ilahi. Wahyu merupakan inisiatif Allah untuk mengungkapkan kehendak-Nya atas diri kita (bdk. Kon. Vat.II Dei Verbum Art 2, Par 1), tetapi inisiatif Allah itu masih merupakan tawaran. Kita diberi tawaran inisiatif Allah yaitu pewahyuan-Nya, tetapi kita perlu menanggapinya pula yaitu dengan iman kita. Agar tawaran inisiatif Allah itu menjadi nyata dalam diri kita, kita mempersembahkan seluruh keyakinan iman kita, harapan hidup kita, hanya pada Dia yang sedang mewahyukan Diri-Nya kepada kita (bdk. Kon.Vat.II Dei Verbum Art 5). Maka dari itu, perlu kepenuhan dan totalitas perhatian dan segenap diri kita untuk bisa menerima pewahyuan itu. Perhatian yang terbagi dan hati yang tidak terarah pada-Nya tidak akan mengantar kita kepada isi pewahyuan itu.
Penting bagi kita menyadari konsep Wahyu-Iman dalam Teologi Katolik seperti secara ringkas saya jelaskan pada alinea sebelumnya, mengapa? Karena dari situlah kita bisa bersikap atas gadget dan media elektronik lainnya sebagai salah satu sarana pewahyuan diri Allah. Jika kita diminta iman yang penuh dan terarah serta total untuk dapat menerima Wahyu Ilahi, maka masing-masing dari kita bisa merefleksikan sendiri apakah Gadget sungguh-sungguh membantu saya mengarahkan hati dan segenap diri saya untuk menerima pewahyuan? Kita semua tahu bahwa dalam gadget kita mungkin ada aplikasi E-Katolik dan sejenisnya, tetapi selain itu ada juga aplikasi lainnya yang sifatnya profan dan tidak sedikit yang punya sistem auto-update. Akan ada banyak gangguan dan godaan ketika membaca isi Kitab Suci melalui Gadget. Katakanlah baru membaca satu ayat, tiba-tiba sudah ada pesan masuk dari aplikasi Media Sosial seperti Line atau WA. Jika anda sendiri bisa mengatasi dan mengontrol hal itu, maka tidak menjadi masalah.
Jika segala gangguan dan godaan itu telah bisa diatasi, dan kita bisa sungguh-sungguh mengarahkan diri hanya pada Dia yang sedang mewahyukan diri-Nya dalam teks-teks Kitab Suci yang kita baca, maka bisa dikatakan pula bahwa gadget menjadi salah satu sarana Allah mewahyukan diri-Nya karena kini Kitab Suci dapat dibaca pula melalui gadget. Perlu mendapat perhatian, Dr. Emmanuel.P.D Martasudjita, Pr- seorang imam dan ahli liturgi mengungkapkan bahwa tetap lebih baik bila kita menggunakan buku Kitab Suci manual, karena itu juga melambangkan kita yang ingin meninggalkan kesibukkan duniawi kita, memberi waktu untuk Tuhan, mengambil Kitab Suci, membacanya, dan menerima inspirasi dan Pewahyuan dari-Nya melalui teks-teks Kitab Suci tersebut. Maka pilihan untuk membaca Kitab Suci dari buku Kitab Suci (bukan dari gadget) tetaplah menjadi prioritas utama yang harus diusahakan setiap kaum beriman.

Panggilan Apostolik
Selain menggunakan gadget sebagai salah satu sarana pewahyuan Ilahi, kita mendapat panggilan untuk juga meneruskan pewahyuan ilahi tersebut. Pewahyuan Ilahi Allah memang mendapat kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, namun pewahyuan itu diwariskan secara turun-temurun inter-generasi dalam tradisi yang amat panjang hingga hari ini. Wahyu Ilahi dari Allah diteruskan pertama-tama kepada para Rasul kemudian kepada para pengganti-penggantinya (Para Uskup) yang kita tahu mempunyai kuasa mengajar (Magisterium) di dalam Gereja (bdk. Kon.Vat.II Dei Verbum Art 7).
Namun tugas pewartaan itu tidak hanya ada di pundak para Uskup sebab pada dasarnya Yesus juga mengutus kita, “dan, apa yang Kubisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.” (Mat 10: 27b). Apabila kita menerima bisikkan dari Wahyu Ilahi, kita wajib untuk mewartakannya bukan dengan ragu dan malu, tetapi Yesus bersabda “Di atas Atap Rumah”. Setelah kita menerima Wahyu Ilahi, Yesus menghendaki kita untuk menjadi pewarta juga.
Untuk itu, Gereja menyambut baik kehadiran teknologi-teknologi yang dibuat manusia sebagai salah satu hasil kecerdasan ciptaan Allah, Gereja menghargai usaha-usaha itu terlebih karena mampu menggerakkan banyak orang. Tentu saja Gereja menghargai semua usaha itu yang sifat dan arahnya positif (bdk. Kon.Vat.II Inter Mirifica Art 1). Orang Katolik tidak dilarang menggunakan aneka teknologi-teknologi yang ada untuk perkembangan media sosial.  Semua anggota Gereja berhak untuk menggunakannya sejauh berguna bagi pendidikan Kristen dan seluruh karyanya demi keselamatan manusia. Kita diundang untuk menggunakan teknologi-teknologi yang ada, demi pewartaan karya keselamatan Allah bagi dunia. Kita diundang untuk menggunakan teknologi sebagai salah satu sarana pewartaan kita (bdk. Kon. Vat.II Inter Mirifica Art 3).
topik ini mungkin bukanlah suatu topik yang baru, dan memang sering dikumandangkan oleh Gereja agar semua umat beriman menggunakan teknologi-teknologi yang ada untuk mewartakan Kristus di seluruh dunia. Jangkauannya yang melebihi batas-batas negara memampukan pewartaan berlangsung cepat dan efektif. Tahta Suci pun telah melaksanakan panggilan apostolik di era digital dengan merasul melalui akun media sosial Twitter – Facebook dan lainnya.
Minggu Paskah Ketujuh tahun ini adalah Hari Komunikasi Sosial. Gereja merayakan Hari Komunikasi Sosial ini guna memantapkan macam-macam upaya komunikasi sosial. Pada hari inilah seluruh umat beriman diajak untuk memanjatkan doa bagi kerasulan dalam komunikasi-komunikasi sosial yang semakin efektif dan juga kita semua diajak untuk menyadari kewajiban-kewajiban kita di bidang komunikasi sosial, menjadi rasul yang menjalankan panggilan apostolik di era digital ini bdk. Kon.Vat.II Inter Mirifica Art 18). Kita bisa bertanya pada diri kita masing-masing, sudahkah kita melaksanakan panggilan apostolik itu dengan teknologi-teknologi yang ada di dekat kita? Sudahkah kita mewartakan nilai-nilai Kristiani dan mewartakan Kabar Gembira melalui teknologi-teknologi di dekat kita dan juga melalui aneka media komunikasi sosial? Mari kita bersama-sama memenuhi dunia maya dengan keselamatan yang nyata. Mari kita pendam dan kubur dalam-dalam aneka konten Hoax dengan pewartaan cinta kasih dan kebenaran. Mari kita bersama-sama wujudkan era digital yang manusiawi dan bernuansa positif. Mari penuhi dunia maya dengan cinta kasih dan mengkonkritkan itu dalam dunia nyata.
Fr. Henrikus Prasojo, OMI

Minggu, 28 September 2014

Malam Mingguan OP-OMI

Kisah Novis OMI dan OP bermalam minggu bersama

          Sabtu, 27 September 2014 kami para novis OMI diajak untuk pergi malam mingguan bersama suster-suster novis OP di jalan Baciro, Yogyakarta oleh Romo Ant.Sussanto, OMI. Ajakan yang aneh, tapi ternyata menyenangkan. Sejak awal aku bertanya-tanya, “Apa jadinya Biarawan-biarawati malem mingguan bersama.”
          Acara diadakan di Novisiat suster-suster OP di jalan Baciro, Yogyakarta, lebih tepatnya di samping gereja paroki Baciro.
          Kami (Komunitas Novisiat OMI) berangkat dari Blotan menggunakan mobil. Karena tidak cukup untuk semua, Romo Santo, OMI dan Frater Alvin pergi menggunakan motor. Kami semua berangkat bersama pukul 15.30 WIB.
          Setibanya disana kami langsung disambut oleh suara-suara Sopran, Sopranino dan Alto para suster-suster. Beda sekali dengan suara kami yang rata-rata berwilayah Bass.
          Kegiatan kami yang pertama adalah, bersama-sama belajar membuat rosario sendiri. Bahan dan perlengkapan disediakan oleh Komunitas Novisiat OMI, dan tutorial diberikan oleh para suster OP. Seru sekali bisa punya rosario usaha dan buatan sendiri. Aku ingat seoarang temanku di SWB pernah melakukan ini sendiri (Fr.Bernard, Pr) hahaha
          Pukul 18.00 WIB kami mengadakan perayaan Ekaristi bersama. Ekaristi dipimpin oleh Rm.Santo,OMI dengan konselebran Rm. Sattu, OMI. Petugas koor dari Novisiat OMI ditambah dua orang suster novis OP, diiringi oleh Grup Keroncong Novisiat, membawakan lagu-lagu nuansa Keroncong dari Madah Bhakti.
          Seusai perayaan Ekaristi kami makan malam bersama di ruang makan. Saat itu tidak ada kecanggungan sama sekali. Kami saling berbagi cerita sambil makan dengan suasana yang sangat hangat. Keakraban cepat sekali terbangun diantara kami. Memang sebelumnya kami sudah saling kenal saat Kursus Gabungan Novis (KGN) baik bagi Novis I maupun Novis II.
          Yang paling ditunggu-tunggu adalah acara rekreasi bersama. Masing-masing Novis OMI sudah menyiapkan cerita lucu dan beberapa permainan yang biasa dimainkan bersama. Keceriaan saat itu sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tidak mau kalah, para suster pun ada yang membawakan cerita lucu, ada juga menampilkan tarian daerah. Setiap ada yang tampil, semua tampil dengan cukup percaya diri dan tidak tampak adanya kecanggungan di antara kami semua baik Novis maupun para Formator
          Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan. Terima kasih kepada Rm.Santo,OMI dan Sr.Fidelia,OP yang telah memberikan pengalaman macam ini kepada kami para Novis. Sungguh pertemuan ini telah memberikan peneguhan baru bagiku untuk menatap masa depanku di jalan panggilan ini. Aku mengira malam mingguan hanya milik bagi mereka yang sudah punya kekasih, tapi ternyata sebagai biarawan-biarawati kami bisa juga merasakan pengalaman malam mingguan dan mengisinya dengan hal positif yang meneguhkan panggilan dan juga menambah keakraban diantara kami.
          Semoga berikutnya ada lagi acara seperti ini lagi ya Romo...hehhehehe.....

Yogyakarta, 28 September 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo

















Rabu, 17 September 2014

Another Music Experiences......

 Sejak tanggal 22 Agustus 2014 kami komunitas Novisiat dan Skolastikat OMI mendapatkan sebuah kesempatan langka untuk mengembangkan musikalitas kami. Program ini diadakan atas kerjasama Rektor Seminari Tinggi OMI yaitu, Romo Antonius Widiatmoko,OMI dengan seorang dosen jurusan Seni Musik dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Bapak Eddie Susilo.
          Selain dilatih oleh seorang dosen ISI, kami juga dibimbing oleh tiga orang Mahasiswa ISI. Yang pertama adalah mas Dibyo spesialisasi Contra Bass, yang kedua mas Yonathan spesialisasi Drum set dan perkusi, lalu yang terakhir mas Abdi spesialisasi Piano Classic.
          Program pelatihan yang kami jalani adalah progam grup Keroncong dan grup Band. Latar belakang diadakannya kerja sama ini adalah karena di Seminari Tinggi OMI terdapat alat-alat yang memadai namun pemakaiannya belum maksimal, sehingga Romo Widi ingin memaksimalkan fasilitas yang sudah tersedia ini.
          Setelah satu bulan menjalani latihan rutin seminggu 3 kali (Selasa, Kamis, Jumat) output dari kerjasama ini adalah performance dari kami. Penampilan ini diadakan di Seminari Tinggi OMI pada tanggal 15 September 2014.
          Penonton yang hadir terdiri dari Bapak Lurah Condongcatur, 2 dosen ISI, beberapa mahasiswa ISI, 3 Anggota HMKK (Himpunan Mahasiswa/i Katolik Kalimantan)
          Dalam penampilan, grup Keroncong menampilkan dua buah lagu yaitu Bengawan Solo dan Cucak Rowo. Grub Band menampilkan tiga buah lagu yaitu Kau Auraku – Ada Band, Marry You – Bruno Mars, dan Yogyakarta – KLA Project. Lalu ending dari penampilan ini adalah membawakan lagu tema “Desa Condongcatur” gubahan bapak Eddie Susilo sendiri.

         
                                                                        Yogyakarta, 16 September 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo





Selasa, 16 September 2014

KGN PH 2014

Kursus Gabungan Novis : Pengolahan Hidup Religius
8-13 Sept 2014

          Pada tanggal 8-13 September 2014 diaadakan pekan  pengolahan hidup(PH) bagi para Novis yang ada di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Kursus ini rutin setiap tahun bagi para Novis I maupun postulant dari berbagai Kongregasi yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Biasanya acara PH ini diadakan di Novisiat Susteran CB di jalan Gejayan, tapi karena beberapa alasan, tahun ini pekan PH dilaksanakan di Seminari Tinggi OMI di jalan Condongcatur.
          Peserta KGN tahun ini berjumlah 33 orang. Terdiri atas 3 Frater 7 Bruder dan 23 Suster. Dari OMI 3 Frater dan 1 Bruder, lalu ada 2 Bruder FIC, 3 Bruder MSC, 1 orang Bruder CSA, 2 Suster OP, 8 Suster ADM, 6 Suster SFD, 4 Suster PBHK, 2 Suster PPYK dan 1 Suster AK.
          Selama satu minggu di bawah bimbingan Rm.Sulis, MSF kami menggali pengalaman-pengalaman kami guna mengenal diri kami secara lebih mendalam. Lebih jauh, sasarannya adalah semakin menyadari serta mensyukuri segala karya Allah yang hadir dalam pengalaman hidup kami dan nantinya dapat semakin mengenal sosok Allah secara personal dan mendalam.
          Dinamika yang kami lalui sangat menarik. Terkesan santai tetapi ternyata tidak juga. Pendekatan yang dilakukan oleh Romo Sulis adalah menggambar, merenung, menulis dan sharing. Cara kami mengekspresikan sesuatu lewat gambar adalah cerminan diri kita yang sesungguhnya. Penuh keaslian dan kesannya tidak dibuat-buat. Dari gambar yang kami buat, kami diminta untuk merenungkannya sejauh mana gambar yang kami buat mencerminkan kepribadian kami masing-masing, lalu menuliskannya sebagai refleksi. Setelah direfleksikan, hasil refleksi kami sharingkan dalam kelompok kecil.
          Sungguh pengalaman yang menyenangkan bagiku. Yang pertama karena aku dapat mengolah diriku untuk semakin mengenal kebaikan-kebaikan Allah yang hadir dalam diriku dan tentu ini penting bagi perjalanan panggilanku. Yang kedua karena aku bisa berjumpa dengan para teman seperjalanan yaitu para Novis dari Kongregasi lain.
Ada sebuah fakta yang cukup menggelitik bahwa dari 33 peserta KGN hanya 3 orang yang berasal dari kota besar. 2 dari Jakarta yaitu saya dan Sr.Martha, PBHK, dan 1 orang dari Yogyakarta Sr.Ludgardis, OP. 30 peserta lainnya berasal dari berbagai daerah seperti Sumatera, Kalimantan, NTT, NTB, dan Timur Leste. Peradaban yang maju ibarat semak duri yang menghimpit sehingga benih yang ditabur tidak dapat tumbuh dengan baik di tanah tersebut. Haha
Aku sendiri akhirnya menyadari bahwa pergulatanku menjadi seorang yang berusaha menjawab panggilan Tuhan sangatlah rumit. Bagiku sendiri atmosfir Jakarta memang kurang kondusif untuk menjalani panggilan.
Lewat berbagai proses, aku menemukan diriku yang lain yang terbentuk secara otomatis karena pengaruh lingkungan khususnya di masyarakat Jakarta. Yang lebih mengejutkan bagiku, diriku yang lain ini mendominasi alam bawah sadarku sehingga ada hal-hal yang kurang sesuai dengan spiritualitas hidup religius dalam diriku tetapi tidak pernah kusadari sampai di umur ke-19 ini.
Diriku yang lain cenderung menunjukan tendensi diri yang Egosentris, aku sebagai pusat. Padahal yang diharapkan dari para religius adalah Teosentris, Allah sebagai pusat. Dengan merenungkan pengalaman-pengalaman masa lalu itulah aku menemukan diriku yang lain.
Yah, dinamika hidup cepat dan tuntutan untuk kompetitif telah membentuk diriku secara dominan di alam bawah sadarku. Walaupun aku punya benih panggilan, pada akhirnya yang dominant adalah diriku sendiri, tapi kurang menyadari dan merasakan bahwa Allah berkarya dalam diriku setiap hari.
Segala pencapaian yang telah kulakukan memang membuatku bisa berlari dan menunjukan kualitas pribadi sebagai anak Allah yang mengembangkan talentanya. Tetapi ternyata di sana terselubung sebuah penyimpangan jalan hidup dari spiritualitas para religius di mana Allah tetap harus menjadi pusat hidup kami. Allah sebagai penyelenggara kehidupan. Ia memanggil dan memelihara. Ia sang Formator utama yang membentuk diri kami sehingga akhirnya nanti kami pantas menjadi seorang imam/biarawan/biarawati yang seturut dengan perutusan kami masing-masing di dunia ini.
Secara umum aku berharap bisa menghidupi dan menghayati kutipan ini dalam keseharianku,
Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  (Gal 2:20)
Yogyakarta, 14 September 2014
The Pilgrim

Henrikus Prasojo





That's Day.....


“Aku mencari kebahagiaan di luar Allah,
dan setelah sekian lama yang kudapatkan hanyalah penderitaan.”
(St. Eugenius de Mazenod)

Hari ini aku benar-benar mengalami sebuah sentuhan dari Allah. Aku merasa seakan-akan mengalami apa yang dialami oleh St.Eugenius de Mazenod.
Sudah satu bulan lebih aku tinggal di Novisiat OMI, tapi tidak seluruh jiwaku hadir di tempat ini. segala emosi dan ekspresi memang terlihat meyakinkan, tetapi ternyata tetap saja jiwaku ini tidak utuh. Selalu ada bagian yang kosong. Selama satu bulan ini masih saja aku mencari kesenangan, dan yang kudapat hanyalah kesia-siaan. Berkali-kali jiwaku ini melayang ke luar Novisiat, dan yang kudapat hanyalah kesia-siaan yang berbuah galau.
Berawal dari kebodohanku dan teman seangkatanku di Seminari Wacana Bhakti Carol si gendut dan sulit untuk jadi kurus (sekarang Frater di KAJ). Dia meledekku dan bodohnya aku terpancing ledekan itu. Ledekannya memang tidak terlalu frontal. Yah, ledek-ledekan tentang topik klasik khas remaja. Bodohnya ini kami lakukan di sebuah situs Media Social yaitu Twitter.
Alhasil, yang bersangkutan pun melihat juga yang kami perdebatkan, dan tentu ia memberi respon, bahkan sebuah respon yang sangat jauh di luar perkiraanku. Gila, aku sendiri baru ingat bahwa ini adalah sebuah lapak umum. Kok bisa-bisanya aku terpancing temanku si gendut ini.
Seketika muncul perasaan tidak enak dengan yang bersangkutan. Aku jadi berpikir bahwa mungkin aku adalah orang jahat karena bersikap terlalu baik. Yah, memang aneh, tetapi memang terkadang perbuatan baik pun bisa berakibat buruk.
Perasaan tidak enak ini  terbawa terus selama perjalanan menuju Novisiat OMI di Jogja, bahkan sampai di Novisiat pun aku masih terganggu dengan perasaan ini.
Seperti biasa, semua kegundahan pasti akan kubawa dalam doa. Tapi situasi yang ekstrim ini membuatku tidak bisa berpikir jernih dalam doa. Dalam doa pribadi dan setiap kesempatan merenung aku selalu mengeluh kepada Tuhan, “Mengapa Kau biarkan aku jatuh cinta?”
Keluhan itu selalu keluar baik dalam doa pribadi, meditasi ataupun renungan malam, baik pagi-siang-malam. Yah memang suasana hatiku sangat amburadul.
Namun, hari ini Tuhan memberikan penerangan kepadaku. Mungkin Ia sudah tidak tega melihatku menderita akibat perbuatanku sendiri. apa yang Ia katakan? Sungguh jawaban yang sangat di luar perkiraanku dan sungguh bukan jawaban yang bisa kuduga-duga, “Bukan orangnya yang harus kau cintai. Tetapi Aku menghendaki supaya kamu mencintai Santo yang menjadi pelindungnya, nama baptisnya ! lewat dia lah Kutunjukan kepadamu hambaKu yang kiranya kau teladani. Sesungguhnya Aku telah menunjukan jalanKu kepadamu lewat pengalaman jatuh cinta itu !
Gila, lagi-lagi gila ! keras sekali jawaban Tuhan. Tetapi memang sangat tidak kuduga-duga akan seperti ini Ia menjawab aku. Ini menjadi sebuah pengalaman rohani paling istimewa seuumur hidupku. Sebuah pengalaman rohani yang tidak akan terlupa.
 Pengalaman rohani ini kudapatkan siang hari saat berjalan-jalan di kebun Novisiat OMI seusai makan siang. Dan saat itu jugalah aku tersadar bahwa sekali Tuhan memanggil, Tuhan tak akan berpaling. Sungguh kurasakan, belas kasih Tuhan tidak terkira sepanjang hidupku. Aku tidak lagi merasa seperti seonggok daging yang bergerak tanpa kesadaran, tetapi menjadi hidup kembali karena Roh-Nya. Aku bersyukur kepadaMu ya Tuhan dan amat berterima kasih atas pengalaman rohani yang boleh kudapatkan ini. Kau begitu pengasih walau sering aku tidak peka dengan kasihMu itu. Ini aku Tuhan, bentuklah aku menjadi bejana seperti yang Kau inginkan.

“1000 kali lebih senangnya, bahwa Bapa yang baik,
meskipun aku penuh dengan ketidaklayakan,
Ia menghujani aku dengan kekayaan belas kasihNya.”
(St.Eugenius de Mazenod)

Pengalaman rohani ini langsung kucatat dalam secarik kertas yang ada di kantongku, dan pengolahannya yang lebih mendalam kutulis pada malam hari sebelum istirahat malam. Sesudah hari ini, aku mencoba mengekspresikan pengalaman rohaniku dengan membuat sebuah poster promosi, walau aku tidak ahli dalam hal ini, tapi aku mencoba membuat dengan baik menggunakan program Corel draw (materi kelas XII IPS 2013). Ada rekomendasi, bahwa lebih baik menggunakan photoshop, tapi sayang saya belum pernah belajar menggunakan Photoshop.
Yogyakarta, 13 Agustus 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo



“Why you choose to love someone, if you can love everyone?
Why you choose to love someone, but not consider that God Have Loved you first?
I can’t marry, but my life is filled with countless love.”
(Henrikus Prasojo)

From them I’ve found God’s Love. They countless love are presenting God’s love and give many colour in my life…… xo
1.     








Minggu, 14 September 2014

Karena Hidup Tidak Selalu Datar


Pengalaman Mendaki Puncak Gunung Lawu

Naik-naik ke Puncak Gunung, tinggi-tinggi sekali. 2x
Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara. 2x
Lagu anak-anak di atas terdengar sangat riang, disajikan dengan nada yang ringan dan asyik dilantunkan. Namun lagu itu tidak berlaku bagiku ketika mendengar bahwa kami para Novis akan ikut bersama Frater Skolastikat mendaki Gunung Lawu. Membayangkan tingginya saja sudah membuat badanku pegal, apalagi harus mendaki. Bah, begitulah ekspresi spontan yang keluar dalam diriku.
Aku sadar betul bahwa aku bukanlah orang yang rajin olahraga dan punya fisik yang kuat, maka aku cenderung untuk menghindar dari kegiatan yang ekstrim-ekstrim seperti itu. Tapi, berhubung pilihan keduanya adalah menghabiskan waktu berduaan saja  dengan Magister Novis di Novisiat, saya menguatkan hati dan fisik saya untuk ikut acara mendaki gunung ini. hehehe
Kami mempersiapkan fisik maupun logistic selama akhir bulan Juli menjelang keberangkatan. Mulai “beronthel”  ria sepanjang jalan Kaliurang yang menanjak tidak karuan hingga membeli perlengkapan untuk mendaki gunung. Memang persiapan adalah senjata perang yang paling penting. Bodoh jika orang berperang tanpa membawa senjata.
Kami (Novis dan Skolastik) berangkat ditemani Romo.Ant.Widiatmoko, OMI selaku Rektor Seminari Tinggi OMI, yang juga menyelenggarakan kegiatan mendaki gunung ini. Dari Wisma de Mazenod (Seminari Tinggi OMI) kami memulai perjalanan .
Perjalanan cukup jauh. Dari Jogja kami pergi ke daerah Wonogiri tepatnya daerah Tawangmangu yaitu tempat  awal pendakian gunung Lawu. Rasa kantuk menyerangku dalam perjalanan dan membuatku bahagia menikmati perjalanan.
Sebelum acara pendakian aku menaruh rasa percaya penuh pada perkataan Magisterku itu tanpa memastikan sendiri kondisi aktualnya. Aku sempat merasa dikerjai oleh Magisterku yang mengatakan bahwa, “Puncak Lawu paling hanya 2500an Mdpl, suhu sekitar 15o -18o Celcius. Pake sepatu sandal aja. Malah biasanya pada pake sendal jepit .”
Akhirnya, tidak seperti frater2 lain yang menggunakan sepatu, hanya aku dan Aan yang menggunakan sandal gunung.  Padahal puncak Lawu yang akan kami daki memiliki ketinggian 3265 Mdpl, dengan suhu rata-rata saat siang hari 15 o -  5o Celcius  dan 4o 0o Celcius pada malam hari. Setidaknya itu yang ku rasakan dan memang tertera pada informasi dari Internet. 
Memang bagi yang berpengalaman, memakai sandal jepit untuk naik gunung adalah rekomendasi yang baik, tapi ternyata tidak bagiku yang benar-benar pemula dalam mendaki gunung. Selama perjalanan  telapak kakiku ini berulang kali tertimpa batu yang meluncur jatuh, ataupun beberapa kali tersangkut ranting kayu yang berjatuhan. Tidak jarang juga kaki ini terinjak frater lain yang ikut mendaki mulai dari yang tidak sengaja hingga yang disengaja, seperti yang dilakukan Frater Langet, OMI.
Jujur, bagiku yang lahir dan besar di daerah perkotaan, acara mendaki gunung ini adalah sebuah pekerjaan berat yang butuh perjuangan. Dari pos awal pendakian hingga sampai pos 3 aku masih punya semangat yang membara. Nafasku teratur, jalanku tegap, langkahku mantap dengan sandal gunungku.
 Namun apa daya, sampai di pos 3, jaket yang kugunakan mulai terasa setipis benang. Kugunakan jaket kedua yang kubawa dan tidak memberi efek sedikitpun. Rasa dingin yang belum pernah kurasakan seumur hidupku (di Jakarta suhu terendah adalah 16o Celcius, itupun karena pengaruh AC). Mataku melotot ketika Frater Arki, OMI melihat termometer yang dibawa Frater Denny, OMI menunjukkan angka 0o Celcius. Wleehh, beku sekali rasanya. Akhirnya dalam sedikit keputusasaan kami berhasil menghangatkan diri kami dengan api unggun yang telah kami buat.
Masih ada 2 pos lagi untuk sampai ke Puncak. Aku pun menguatkan tekad lagi agar bisa sampai ke puncak Lawu. Biar bagaimanapun, aku ingin sekali mencapai puncak Lawu dan menikmati pemandangan yang ada di atas sana sebagai suatu pencapaian hidupku. Namun apa boleh dikata, ada pepatah yang berkata “Nafsu besar, tenaga kurang” . Itulah yang terjadi pada diriku. Semangatku memang membakar, tetapi ternyata nafasku juga terbakar. Nafasku mulai terengah-engah ketika beranjak dari pos 3 menuju ke pos 4.
Aku yang tadinya mendaki di barisan depan, akhirnya malah ada di paling belakang bersama Frater Novis Andy (kami akrab memanggil Mas Andy). Inilah penggenapan Injil yang terjadi padaku: “Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (Mat 20 :16). Dan penggenapan Injil yang kedua adalah karena kami akhirnya berjalan berduaan saja dari pertengahan pos 3 menuju pos 4, seperti 2 murid yang berjalan menuju Emaus (Luk 24:13-35). Kami berdua tertinggal jauh dari Frater-frater lain yang fisiknya jauh lebih mantap daripada fisik kami.
Di pos 4 kami hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan perjalanan. Namun ada seekor burung indah yang baru pertama kali kulihat yaitu burung Jalak Bali, menghampiri kami berdua dan seakan-akan menunjukan jalan kepada kami. Kami berdua yang penasaran, akhirnya berjalan beriringan dengan burung Jalak tersebut yang hinggap kian kemari, berpindah-pindah pohon yang sejalan dengan jalur kami. Ternyata burung itu menuntun kami untuk bertemu dengan pendaki lain yaitu Frater Novis Alvin( akrab kami panggil Alvin). Kami mendapatkan teman seperjalanan.
Dengan semangat membara (tapi raga tertatih-tatih) kami bertiga berhasil melewati pos 5 dan hampir mencapai puncak. Kagetlah kami ketika kami naik ke puncak, para frater yang tadi sudah sampai terlebih dahulu hendak turun. Untunglah kami diberi kesempatan untuk tetap menikmati puncak gunung Lawu. Indah benar pemandangan di atas sana.
Aku menyesal telah mengeluh dan khawatir terlalu banyak sebelum berangkat mendaki gunung tanpa membayangkan dulu kenikmatan yang kini bisa kurasakan. Rasanya tidak salah lagu dari Puji Syukur no.707 kulantunkan dalam hati, “Betapa tidak kita bersyukur, bertanah air kaya dan subur. Lautnya luas gunungnya megah. Menghijau Padang bukit dan lembah.” Keindahan dalam lagu itu terealisasi dengan jelas lewat mataku sendiri di puncak Lawu. Betapa puas hati kami bertiga dapat sampai ke puncak Gunung Lawu ini.
Ternyata perjuangan belum berakhir. Tidak kami kira bahwa turun dari gunung membutuhkan perjuangan juga. Rasa lelah mendaki terakumulasi ketika harus menahan berat badan untuk menuruni puncak. Inilah yang kerap terjadi pada kebanyakan orang. Terlalu cepat menganggap enteng suatu perkara. Terlihat mudah namun ternyata sulit juga. Kita kerap mempersiapkan keberangkatan saja seakan-akan setelah sampai di tujuan urusan sudah selesai, padahal masih ada perjalanan pulang yang perlu kita persiapkan pula.
Itulah pengalamanku mendaki dan menuruni gunung Lawu. Tentu aku tidak pulang hanya membawa badan pegal dan encok saja. Aku punya pengalaman berharga ini, dan kujadikan sebagai pembelajaran bagi hidupku, yang selama ini nyaman dilindungi oleh atmosfir Metropolitan kota Jakarta.
 Dari pengalaman ini aku belajar untuk berjuang keluar dari zona nyamanku dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Inilah hidup, inilah kehidupan kita. Hidup kita tidak selalu datar . Perjalanan dan peziarahan hidup kita adalah perjalanan hidup yang dinamis, memiliki kecenderungan untuk naik dan turun.
Keberhasilan memang ada di puncak gunung, tetapi puncak gunung itu bukanlah milik kita sendiri. Ada orang lain yang juga berusaha mendaki dan mencapai puncak gunung tersebut, sehingga kita pun mau tidak mau harus turun dari puncak itu.

Menurut Romo Widi, OMI, banyak manusia siap untuk kesuksesan, tetapi tidak siap menghadapi masa turun dari kesuksesannya. Banyak orang mengalami Post Power Syndrome dan cenderung mudah marah, sentimental dan mudah tersinggung di hari tuanya. Kerap kita merasa nyaman-nyaman saja dengan kedataran kita ini. Kita lupa bahwa masih ada sesuatu yang bisa kita perjuangkan, yang ada di puncak sana. Begitu pula ketika kita sudah menikmati puncak, kitapun harus siap untuk turun dari puncak gunung tersebut. Sekali lagi, karena hidup kita tidak selalu datar .

Yogyakarta, 7 Agustus 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo