Selasa, 16 September 2014

KGN PH 2014

Kursus Gabungan Novis : Pengolahan Hidup Religius
8-13 Sept 2014

          Pada tanggal 8-13 September 2014 diaadakan pekan  pengolahan hidup(PH) bagi para Novis yang ada di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Kursus ini rutin setiap tahun bagi para Novis I maupun postulant dari berbagai Kongregasi yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Biasanya acara PH ini diadakan di Novisiat Susteran CB di jalan Gejayan, tapi karena beberapa alasan, tahun ini pekan PH dilaksanakan di Seminari Tinggi OMI di jalan Condongcatur.
          Peserta KGN tahun ini berjumlah 33 orang. Terdiri atas 3 Frater 7 Bruder dan 23 Suster. Dari OMI 3 Frater dan 1 Bruder, lalu ada 2 Bruder FIC, 3 Bruder MSC, 1 orang Bruder CSA, 2 Suster OP, 8 Suster ADM, 6 Suster SFD, 4 Suster PBHK, 2 Suster PPYK dan 1 Suster AK.
          Selama satu minggu di bawah bimbingan Rm.Sulis, MSF kami menggali pengalaman-pengalaman kami guna mengenal diri kami secara lebih mendalam. Lebih jauh, sasarannya adalah semakin menyadari serta mensyukuri segala karya Allah yang hadir dalam pengalaman hidup kami dan nantinya dapat semakin mengenal sosok Allah secara personal dan mendalam.
          Dinamika yang kami lalui sangat menarik. Terkesan santai tetapi ternyata tidak juga. Pendekatan yang dilakukan oleh Romo Sulis adalah menggambar, merenung, menulis dan sharing. Cara kami mengekspresikan sesuatu lewat gambar adalah cerminan diri kita yang sesungguhnya. Penuh keaslian dan kesannya tidak dibuat-buat. Dari gambar yang kami buat, kami diminta untuk merenungkannya sejauh mana gambar yang kami buat mencerminkan kepribadian kami masing-masing, lalu menuliskannya sebagai refleksi. Setelah direfleksikan, hasil refleksi kami sharingkan dalam kelompok kecil.
          Sungguh pengalaman yang menyenangkan bagiku. Yang pertama karena aku dapat mengolah diriku untuk semakin mengenal kebaikan-kebaikan Allah yang hadir dalam diriku dan tentu ini penting bagi perjalanan panggilanku. Yang kedua karena aku bisa berjumpa dengan para teman seperjalanan yaitu para Novis dari Kongregasi lain.
Ada sebuah fakta yang cukup menggelitik bahwa dari 33 peserta KGN hanya 3 orang yang berasal dari kota besar. 2 dari Jakarta yaitu saya dan Sr.Martha, PBHK, dan 1 orang dari Yogyakarta Sr.Ludgardis, OP. 30 peserta lainnya berasal dari berbagai daerah seperti Sumatera, Kalimantan, NTT, NTB, dan Timur Leste. Peradaban yang maju ibarat semak duri yang menghimpit sehingga benih yang ditabur tidak dapat tumbuh dengan baik di tanah tersebut. Haha
Aku sendiri akhirnya menyadari bahwa pergulatanku menjadi seorang yang berusaha menjawab panggilan Tuhan sangatlah rumit. Bagiku sendiri atmosfir Jakarta memang kurang kondusif untuk menjalani panggilan.
Lewat berbagai proses, aku menemukan diriku yang lain yang terbentuk secara otomatis karena pengaruh lingkungan khususnya di masyarakat Jakarta. Yang lebih mengejutkan bagiku, diriku yang lain ini mendominasi alam bawah sadarku sehingga ada hal-hal yang kurang sesuai dengan spiritualitas hidup religius dalam diriku tetapi tidak pernah kusadari sampai di umur ke-19 ini.
Diriku yang lain cenderung menunjukan tendensi diri yang Egosentris, aku sebagai pusat. Padahal yang diharapkan dari para religius adalah Teosentris, Allah sebagai pusat. Dengan merenungkan pengalaman-pengalaman masa lalu itulah aku menemukan diriku yang lain.
Yah, dinamika hidup cepat dan tuntutan untuk kompetitif telah membentuk diriku secara dominan di alam bawah sadarku. Walaupun aku punya benih panggilan, pada akhirnya yang dominant adalah diriku sendiri, tapi kurang menyadari dan merasakan bahwa Allah berkarya dalam diriku setiap hari.
Segala pencapaian yang telah kulakukan memang membuatku bisa berlari dan menunjukan kualitas pribadi sebagai anak Allah yang mengembangkan talentanya. Tetapi ternyata di sana terselubung sebuah penyimpangan jalan hidup dari spiritualitas para religius di mana Allah tetap harus menjadi pusat hidup kami. Allah sebagai penyelenggara kehidupan. Ia memanggil dan memelihara. Ia sang Formator utama yang membentuk diri kami sehingga akhirnya nanti kami pantas menjadi seorang imam/biarawan/biarawati yang seturut dengan perutusan kami masing-masing di dunia ini.
Secara umum aku berharap bisa menghidupi dan menghayati kutipan ini dalam keseharianku,
Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  (Gal 2:20)
Yogyakarta, 14 September 2014
The Pilgrim

Henrikus Prasojo





Tidak ada komentar:

Posting Komentar