Kursus
Gabungan Novis : Pengolahan Hidup Religius
8-13
Sept 2014
Pada tanggal 8-13 September 2014 diaadakan pekan pengolahan hidup(PH) bagi para Novis yang ada
di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Kursus ini rutin setiap tahun bagi para Novis
I maupun postulant dari berbagai Kongregasi yang ada di Yogyakarta dan
sekitarnya. Biasanya acara PH ini diadakan di Novisiat Susteran CB di jalan
Gejayan, tapi karena beberapa alasan, tahun ini pekan PH dilaksanakan di
Seminari Tinggi OMI di jalan Condongcatur.
Peserta KGN tahun ini berjumlah 33 orang. Terdiri atas 3
Frater 7 Bruder dan 23 Suster. Dari OMI 3 Frater dan 1 Bruder, lalu ada 2
Bruder FIC, 3 Bruder MSC, 1 orang Bruder CSA, 2 Suster OP, 8 Suster ADM, 6
Suster SFD, 4 Suster PBHK, 2 Suster PPYK dan 1 Suster AK.
Selama satu minggu di bawah bimbingan Rm.Sulis, MSF kami
menggali pengalaman-pengalaman kami guna mengenal diri kami secara lebih
mendalam. Lebih jauh, sasarannya adalah semakin menyadari serta mensyukuri
segala karya Allah yang hadir dalam pengalaman hidup kami dan nantinya dapat
semakin mengenal sosok Allah secara personal dan mendalam.
Dinamika yang kami lalui sangat menarik. Terkesan santai
tetapi ternyata tidak juga. Pendekatan yang dilakukan oleh Romo Sulis adalah
menggambar, merenung, menulis dan sharing. Cara kami mengekspresikan sesuatu
lewat gambar adalah cerminan diri kita yang sesungguhnya. Penuh keaslian dan
kesannya tidak dibuat-buat. Dari gambar yang kami buat, kami diminta untuk
merenungkannya sejauh mana gambar yang kami buat mencerminkan kepribadian kami
masing-masing, lalu menuliskannya sebagai refleksi. Setelah direfleksikan,
hasil refleksi kami sharingkan dalam kelompok kecil.
Sungguh pengalaman yang menyenangkan bagiku. Yang pertama
karena aku dapat mengolah diriku untuk semakin mengenal kebaikan-kebaikan Allah
yang hadir dalam diriku dan tentu ini penting bagi perjalanan panggilanku. Yang
kedua karena aku bisa berjumpa dengan para teman
seperjalanan yaitu para Novis dari Kongregasi lain.
Ada sebuah
fakta yang cukup menggelitik bahwa dari 33 peserta KGN hanya 3 orang yang
berasal dari kota besar. 2 dari Jakarta yaitu saya dan Sr.Martha, PBHK, dan 1
orang dari Yogyakarta Sr.Ludgardis, OP. 30 peserta lainnya berasal dari
berbagai daerah seperti Sumatera, Kalimantan, NTT, NTB, dan Timur Leste. Peradaban
yang maju ibarat semak duri yang menghimpit sehingga benih yang ditabur tidak
dapat tumbuh dengan baik di tanah tersebut. Haha
Aku sendiri
akhirnya menyadari bahwa pergulatanku menjadi seorang yang berusaha menjawab panggilan
Tuhan sangatlah rumit. Bagiku sendiri atmosfir Jakarta memang kurang kondusif
untuk menjalani panggilan.
Lewat
berbagai proses, aku menemukan diriku yang lain yang terbentuk secara otomatis
karena pengaruh lingkungan khususnya di masyarakat Jakarta. Yang lebih
mengejutkan bagiku, diriku yang lain ini mendominasi alam bawah sadarku
sehingga ada hal-hal yang kurang sesuai dengan spiritualitas hidup religius
dalam diriku tetapi tidak pernah kusadari sampai di umur ke-19 ini.
Diriku yang
lain cenderung menunjukan tendensi diri yang Egosentris, aku sebagai pusat.
Padahal yang diharapkan dari para religius adalah Teosentris, Allah sebagai
pusat. Dengan merenungkan pengalaman-pengalaman masa lalu itulah aku menemukan
diriku yang lain.
Yah,
dinamika hidup cepat dan tuntutan untuk kompetitif
telah membentuk diriku secara dominan di alam bawah sadarku. Walaupun aku punya
benih panggilan, pada akhirnya yang dominant adalah diriku sendiri, tapi kurang
menyadari dan merasakan bahwa Allah berkarya dalam diriku setiap hari.
Segala
pencapaian yang telah kulakukan memang membuatku bisa berlari dan menunjukan
kualitas pribadi sebagai anak Allah yang mengembangkan talentanya. Tetapi
ternyata di sana terselubung sebuah penyimpangan jalan hidup dari spiritualitas
para religius di mana Allah tetap harus menjadi pusat hidup kami. Allah sebagai
penyelenggara kehidupan. Ia memanggil
dan memelihara. Ia sang Formator
utama yang membentuk diri kami sehingga akhirnya nanti kami pantas menjadi
seorang imam/biarawan/biarawati yang seturut dengan perutusan kami
masing-masing di dunia ini.
Secara umum
aku berharap bisa menghidupi dan menghayati kutipan ini dalam keseharianku,
“Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus
yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:20)
Yogyakarta,
14 September 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar