Pengalaman
Mendaki Puncak Gunung Lawu
Naik-naik
ke Puncak Gunung, tinggi-tinggi sekali. 2x
Kiri
kanan kulihat saja banyak pohon cemara. 2x
Lagu anak-anak di atas
terdengar sangat riang, disajikan dengan nada yang ringan dan asyik
dilantunkan. Namun lagu itu tidak berlaku bagiku ketika mendengar bahwa kami
para Novis akan ikut bersama Frater Skolastikat mendaki Gunung Lawu.
Membayangkan tingginya saja sudah membuat badanku pegal, apalagi harus mendaki.
Bah, begitulah ekspresi spontan yang keluar dalam diriku.
Aku sadar betul
bahwa aku bukanlah orang yang rajin olahraga dan punya fisik yang kuat, maka
aku cenderung untuk menghindar dari kegiatan yang ekstrim-ekstrim seperti itu.
Tapi, berhubung pilihan keduanya adalah menghabiskan waktu berduaan saja dengan
Magister Novis di Novisiat, saya menguatkan hati dan fisik saya untuk ikut
acara mendaki gunung ini. hehehe
Kami mempersiapkan
fisik maupun logistic selama akhir bulan Juli menjelang keberangkatan. Mulai “beronthel” ria sepanjang jalan Kaliurang yang menanjak
tidak karuan hingga membeli
perlengkapan untuk mendaki gunung. Memang persiapan adalah senjata perang yang
paling penting. Bodoh jika orang berperang tanpa membawa senjata.
Kami (Novis dan
Skolastik) berangkat ditemani Romo.Ant.Widiatmoko, OMI selaku Rektor Seminari
Tinggi OMI, yang juga menyelenggarakan kegiatan mendaki gunung ini. Dari Wisma
de Mazenod (Seminari Tinggi OMI) kami memulai perjalanan .
Perjalanan cukup
jauh. Dari Jogja kami pergi ke daerah Wonogiri tepatnya daerah Tawangmangu
yaitu tempat awal pendakian gunung Lawu.
Rasa kantuk menyerangku dalam perjalanan dan membuatku bahagia menikmati perjalanan.
Sebelum acara
pendakian aku menaruh rasa percaya penuh pada perkataan Magisterku itu tanpa
memastikan sendiri kondisi aktualnya. Aku sempat merasa dikerjai oleh Magisterku yang mengatakan bahwa, “Puncak Lawu paling
hanya 2500an Mdpl, suhu sekitar 15o
-18o Celcius. Pake sepatu sandal aja. Malah biasanya pada pake sendal jepit .”
Akhirnya, tidak
seperti frater2 lain yang menggunakan sepatu, hanya aku dan Aan yang
menggunakan sandal gunung. Padahal
puncak Lawu yang akan kami daki memiliki ketinggian 3265 Mdpl, dengan suhu
rata-rata saat siang hari 15 o - 5o
Celcius dan 4o –
0o
Celcius pada malam
hari. Setidaknya itu yang ku rasakan dan memang tertera pada informasi dari
Internet.
Memang bagi yang
berpengalaman, memakai sandal jepit untuk naik gunung adalah rekomendasi yang baik,
tapi ternyata tidak bagiku yang benar-benar pemula dalam mendaki gunung. Selama
perjalanan telapak kakiku ini berulang
kali tertimpa batu yang meluncur jatuh, ataupun beberapa kali tersangkut
ranting kayu yang berjatuhan. Tidak jarang juga kaki ini terinjak frater lain
yang ikut mendaki mulai dari yang tidak sengaja hingga yang disengaja, seperti
yang dilakukan Frater Langet, OMI.
Jujur, bagiku yang
lahir dan besar di daerah perkotaan, acara mendaki gunung ini adalah sebuah
pekerjaan berat yang butuh perjuangan. Dari pos awal pendakian hingga sampai
pos 3 aku masih punya semangat yang membara. Nafasku teratur, jalanku tegap,
langkahku mantap dengan sandal gunungku.
Namun apa daya, sampai di pos 3, jaket yang
kugunakan mulai terasa setipis benang. Kugunakan jaket kedua yang kubawa dan
tidak memberi efek sedikitpun. Rasa dingin yang belum pernah kurasakan seumur
hidupku (di Jakarta suhu terendah adalah 16o Celcius,
itupun karena pengaruh AC). Mataku melotot ketika Frater Arki, OMI melihat termometer
yang dibawa Frater Denny, OMI menunjukkan angka 0o
Celcius. Wleehh, beku sekali rasanya. Akhirnya dalam sedikit keputusasaan kami
berhasil menghangatkan diri kami dengan api unggun yang telah kami buat.
Masih ada 2 pos lagi
untuk sampai ke Puncak. Aku pun menguatkan tekad lagi agar bisa sampai ke
puncak Lawu. Biar bagaimanapun, aku ingin sekali mencapai puncak Lawu dan
menikmati pemandangan yang ada di atas sana sebagai suatu pencapaian hidupku.
Namun apa boleh dikata, ada pepatah yang berkata “Nafsu besar, tenaga kurang” .
Itulah yang terjadi pada diriku. Semangatku memang membakar, tetapi ternyata
nafasku juga terbakar. Nafasku mulai terengah-engah ketika beranjak dari pos 3
menuju ke pos 4.
Aku yang tadinya
mendaki di barisan depan, akhirnya malah ada di paling belakang bersama Frater
Novis Andy (kami akrab memanggil Mas Andy). Inilah penggenapan Injil yang
terjadi padaku: “Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (Mat 20 :16). Dan
penggenapan Injil yang kedua adalah karena kami akhirnya berjalan berduaan saja
dari pertengahan pos 3 menuju pos 4, seperti 2 murid yang berjalan menuju Emaus
(Luk 24:13-35). Kami berdua tertinggal jauh dari Frater-frater lain yang
fisiknya jauh lebih mantap daripada fisik kami.
Di pos 4 kami hampir
menyerah dan tidak ingin melanjutkan perjalanan. Namun ada seekor burung indah
yang baru pertama kali kulihat yaitu burung Jalak Bali, menghampiri kami berdua
dan seakan-akan menunjukan jalan kepada kami. Kami berdua yang penasaran,
akhirnya berjalan beriringan dengan burung Jalak tersebut yang hinggap kian
kemari, berpindah-pindah pohon yang sejalan dengan jalur kami. Ternyata burung
itu menuntun kami untuk bertemu dengan pendaki lain yaitu Frater Novis Alvin(
akrab kami panggil Alvin). Kami mendapatkan teman seperjalanan.
Dengan semangat
membara (tapi raga tertatih-tatih) kami bertiga berhasil melewati pos 5 dan hampir
mencapai puncak. Kagetlah kami ketika kami naik ke puncak, para frater yang
tadi sudah sampai terlebih dahulu hendak turun. Untunglah kami diberi
kesempatan untuk tetap menikmati puncak gunung Lawu. Indah benar pemandangan di
atas sana.
Aku menyesal telah mengeluh dan khawatir
terlalu banyak sebelum berangkat mendaki gunung tanpa membayangkan dulu
kenikmatan yang kini bisa kurasakan. Rasanya tidak salah lagu dari Puji Syukur
no.707 kulantunkan dalam hati, “Betapa tidak kita bersyukur, bertanah air kaya
dan subur. Lautnya luas gunungnya megah. Menghijau Padang bukit dan lembah.”
Keindahan dalam lagu itu terealisasi dengan jelas lewat mataku sendiri di
puncak Lawu. Betapa puas hati kami bertiga dapat sampai ke puncak Gunung Lawu
ini.
Ternyata perjuangan
belum berakhir. Tidak kami kira bahwa turun dari gunung membutuhkan perjuangan
juga. Rasa lelah mendaki terakumulasi ketika harus menahan berat badan untuk
menuruni puncak. Inilah yang kerap terjadi pada kebanyakan orang. Terlalu cepat
menganggap enteng suatu perkara. Terlihat mudah namun ternyata sulit juga. Kita
kerap mempersiapkan keberangkatan saja seakan-akan setelah sampai di tujuan
urusan sudah selesai, padahal masih ada perjalanan pulang yang perlu kita
persiapkan pula.
Itulah pengalamanku
mendaki dan menuruni gunung Lawu. Tentu aku tidak pulang hanya membawa badan
pegal dan encok saja. Aku punya pengalaman berharga ini, dan kujadikan sebagai
pembelajaran bagi hidupku, yang selama ini nyaman dilindungi oleh atmosfir
Metropolitan kota Jakarta.
Dari pengalaman ini aku belajar untuk berjuang
keluar dari zona nyamanku dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Inilah hidup,
inilah kehidupan kita. Hidup kita tidak selalu datar . Perjalanan dan peziarahan hidup kita adalah perjalanan
hidup yang dinamis, memiliki kecenderungan untuk naik dan turun.
Keberhasilan memang
ada di puncak gunung, tetapi puncak gunung itu bukanlah milik kita sendiri. Ada
orang lain yang juga berusaha mendaki dan mencapai puncak gunung tersebut,
sehingga kita pun mau tidak mau harus turun dari puncak itu.
Menurut Romo Widi, OMI, banyak manusia siap untuk kesuksesan,
tetapi tidak siap menghadapi masa turun dari kesuksesannya. Banyak orang
mengalami Post Power Syndrome dan
cenderung mudah marah, sentimental dan mudah tersinggung di hari tuanya. Kerap
kita merasa nyaman-nyaman saja dengan kedataran
kita ini. Kita lupa bahwa masih ada sesuatu yang bisa kita perjuangkan,
yang ada di puncak sana. Begitu pula ketika kita sudah menikmati puncak,
kitapun harus siap untuk turun dari puncak gunung tersebut. Sekali lagi, karena
hidup kita tidak selalu datar .
Yogyakarta,
7 Agustus 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo