Minggu, 28 September 2014

Malam Mingguan OP-OMI

Kisah Novis OMI dan OP bermalam minggu bersama

          Sabtu, 27 September 2014 kami para novis OMI diajak untuk pergi malam mingguan bersama suster-suster novis OP di jalan Baciro, Yogyakarta oleh Romo Ant.Sussanto, OMI. Ajakan yang aneh, tapi ternyata menyenangkan. Sejak awal aku bertanya-tanya, “Apa jadinya Biarawan-biarawati malem mingguan bersama.”
          Acara diadakan di Novisiat suster-suster OP di jalan Baciro, Yogyakarta, lebih tepatnya di samping gereja paroki Baciro.
          Kami (Komunitas Novisiat OMI) berangkat dari Blotan menggunakan mobil. Karena tidak cukup untuk semua, Romo Santo, OMI dan Frater Alvin pergi menggunakan motor. Kami semua berangkat bersama pukul 15.30 WIB.
          Setibanya disana kami langsung disambut oleh suara-suara Sopran, Sopranino dan Alto para suster-suster. Beda sekali dengan suara kami yang rata-rata berwilayah Bass.
          Kegiatan kami yang pertama adalah, bersama-sama belajar membuat rosario sendiri. Bahan dan perlengkapan disediakan oleh Komunitas Novisiat OMI, dan tutorial diberikan oleh para suster OP. Seru sekali bisa punya rosario usaha dan buatan sendiri. Aku ingat seoarang temanku di SWB pernah melakukan ini sendiri (Fr.Bernard, Pr) hahaha
          Pukul 18.00 WIB kami mengadakan perayaan Ekaristi bersama. Ekaristi dipimpin oleh Rm.Santo,OMI dengan konselebran Rm. Sattu, OMI. Petugas koor dari Novisiat OMI ditambah dua orang suster novis OP, diiringi oleh Grup Keroncong Novisiat, membawakan lagu-lagu nuansa Keroncong dari Madah Bhakti.
          Seusai perayaan Ekaristi kami makan malam bersama di ruang makan. Saat itu tidak ada kecanggungan sama sekali. Kami saling berbagi cerita sambil makan dengan suasana yang sangat hangat. Keakraban cepat sekali terbangun diantara kami. Memang sebelumnya kami sudah saling kenal saat Kursus Gabungan Novis (KGN) baik bagi Novis I maupun Novis II.
          Yang paling ditunggu-tunggu adalah acara rekreasi bersama. Masing-masing Novis OMI sudah menyiapkan cerita lucu dan beberapa permainan yang biasa dimainkan bersama. Keceriaan saat itu sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tidak mau kalah, para suster pun ada yang membawakan cerita lucu, ada juga menampilkan tarian daerah. Setiap ada yang tampil, semua tampil dengan cukup percaya diri dan tidak tampak adanya kecanggungan di antara kami semua baik Novis maupun para Formator
          Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan. Terima kasih kepada Rm.Santo,OMI dan Sr.Fidelia,OP yang telah memberikan pengalaman macam ini kepada kami para Novis. Sungguh pertemuan ini telah memberikan peneguhan baru bagiku untuk menatap masa depanku di jalan panggilan ini. Aku mengira malam mingguan hanya milik bagi mereka yang sudah punya kekasih, tapi ternyata sebagai biarawan-biarawati kami bisa juga merasakan pengalaman malam mingguan dan mengisinya dengan hal positif yang meneguhkan panggilan dan juga menambah keakraban diantara kami.
          Semoga berikutnya ada lagi acara seperti ini lagi ya Romo...hehhehehe.....

Yogyakarta, 28 September 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo

















Rabu, 17 September 2014

Another Music Experiences......

 Sejak tanggal 22 Agustus 2014 kami komunitas Novisiat dan Skolastikat OMI mendapatkan sebuah kesempatan langka untuk mengembangkan musikalitas kami. Program ini diadakan atas kerjasama Rektor Seminari Tinggi OMI yaitu, Romo Antonius Widiatmoko,OMI dengan seorang dosen jurusan Seni Musik dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Bapak Eddie Susilo.
          Selain dilatih oleh seorang dosen ISI, kami juga dibimbing oleh tiga orang Mahasiswa ISI. Yang pertama adalah mas Dibyo spesialisasi Contra Bass, yang kedua mas Yonathan spesialisasi Drum set dan perkusi, lalu yang terakhir mas Abdi spesialisasi Piano Classic.
          Program pelatihan yang kami jalani adalah progam grup Keroncong dan grup Band. Latar belakang diadakannya kerja sama ini adalah karena di Seminari Tinggi OMI terdapat alat-alat yang memadai namun pemakaiannya belum maksimal, sehingga Romo Widi ingin memaksimalkan fasilitas yang sudah tersedia ini.
          Setelah satu bulan menjalani latihan rutin seminggu 3 kali (Selasa, Kamis, Jumat) output dari kerjasama ini adalah performance dari kami. Penampilan ini diadakan di Seminari Tinggi OMI pada tanggal 15 September 2014.
          Penonton yang hadir terdiri dari Bapak Lurah Condongcatur, 2 dosen ISI, beberapa mahasiswa ISI, 3 Anggota HMKK (Himpunan Mahasiswa/i Katolik Kalimantan)
          Dalam penampilan, grup Keroncong menampilkan dua buah lagu yaitu Bengawan Solo dan Cucak Rowo. Grub Band menampilkan tiga buah lagu yaitu Kau Auraku – Ada Band, Marry You – Bruno Mars, dan Yogyakarta – KLA Project. Lalu ending dari penampilan ini adalah membawakan lagu tema “Desa Condongcatur” gubahan bapak Eddie Susilo sendiri.

         
                                                                        Yogyakarta, 16 September 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo





Selasa, 16 September 2014

KGN PH 2014

Kursus Gabungan Novis : Pengolahan Hidup Religius
8-13 Sept 2014

          Pada tanggal 8-13 September 2014 diaadakan pekan  pengolahan hidup(PH) bagi para Novis yang ada di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Kursus ini rutin setiap tahun bagi para Novis I maupun postulant dari berbagai Kongregasi yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Biasanya acara PH ini diadakan di Novisiat Susteran CB di jalan Gejayan, tapi karena beberapa alasan, tahun ini pekan PH dilaksanakan di Seminari Tinggi OMI di jalan Condongcatur.
          Peserta KGN tahun ini berjumlah 33 orang. Terdiri atas 3 Frater 7 Bruder dan 23 Suster. Dari OMI 3 Frater dan 1 Bruder, lalu ada 2 Bruder FIC, 3 Bruder MSC, 1 orang Bruder CSA, 2 Suster OP, 8 Suster ADM, 6 Suster SFD, 4 Suster PBHK, 2 Suster PPYK dan 1 Suster AK.
          Selama satu minggu di bawah bimbingan Rm.Sulis, MSF kami menggali pengalaman-pengalaman kami guna mengenal diri kami secara lebih mendalam. Lebih jauh, sasarannya adalah semakin menyadari serta mensyukuri segala karya Allah yang hadir dalam pengalaman hidup kami dan nantinya dapat semakin mengenal sosok Allah secara personal dan mendalam.
          Dinamika yang kami lalui sangat menarik. Terkesan santai tetapi ternyata tidak juga. Pendekatan yang dilakukan oleh Romo Sulis adalah menggambar, merenung, menulis dan sharing. Cara kami mengekspresikan sesuatu lewat gambar adalah cerminan diri kita yang sesungguhnya. Penuh keaslian dan kesannya tidak dibuat-buat. Dari gambar yang kami buat, kami diminta untuk merenungkannya sejauh mana gambar yang kami buat mencerminkan kepribadian kami masing-masing, lalu menuliskannya sebagai refleksi. Setelah direfleksikan, hasil refleksi kami sharingkan dalam kelompok kecil.
          Sungguh pengalaman yang menyenangkan bagiku. Yang pertama karena aku dapat mengolah diriku untuk semakin mengenal kebaikan-kebaikan Allah yang hadir dalam diriku dan tentu ini penting bagi perjalanan panggilanku. Yang kedua karena aku bisa berjumpa dengan para teman seperjalanan yaitu para Novis dari Kongregasi lain.
Ada sebuah fakta yang cukup menggelitik bahwa dari 33 peserta KGN hanya 3 orang yang berasal dari kota besar. 2 dari Jakarta yaitu saya dan Sr.Martha, PBHK, dan 1 orang dari Yogyakarta Sr.Ludgardis, OP. 30 peserta lainnya berasal dari berbagai daerah seperti Sumatera, Kalimantan, NTT, NTB, dan Timur Leste. Peradaban yang maju ibarat semak duri yang menghimpit sehingga benih yang ditabur tidak dapat tumbuh dengan baik di tanah tersebut. Haha
Aku sendiri akhirnya menyadari bahwa pergulatanku menjadi seorang yang berusaha menjawab panggilan Tuhan sangatlah rumit. Bagiku sendiri atmosfir Jakarta memang kurang kondusif untuk menjalani panggilan.
Lewat berbagai proses, aku menemukan diriku yang lain yang terbentuk secara otomatis karena pengaruh lingkungan khususnya di masyarakat Jakarta. Yang lebih mengejutkan bagiku, diriku yang lain ini mendominasi alam bawah sadarku sehingga ada hal-hal yang kurang sesuai dengan spiritualitas hidup religius dalam diriku tetapi tidak pernah kusadari sampai di umur ke-19 ini.
Diriku yang lain cenderung menunjukan tendensi diri yang Egosentris, aku sebagai pusat. Padahal yang diharapkan dari para religius adalah Teosentris, Allah sebagai pusat. Dengan merenungkan pengalaman-pengalaman masa lalu itulah aku menemukan diriku yang lain.
Yah, dinamika hidup cepat dan tuntutan untuk kompetitif telah membentuk diriku secara dominan di alam bawah sadarku. Walaupun aku punya benih panggilan, pada akhirnya yang dominant adalah diriku sendiri, tapi kurang menyadari dan merasakan bahwa Allah berkarya dalam diriku setiap hari.
Segala pencapaian yang telah kulakukan memang membuatku bisa berlari dan menunjukan kualitas pribadi sebagai anak Allah yang mengembangkan talentanya. Tetapi ternyata di sana terselubung sebuah penyimpangan jalan hidup dari spiritualitas para religius di mana Allah tetap harus menjadi pusat hidup kami. Allah sebagai penyelenggara kehidupan. Ia memanggil dan memelihara. Ia sang Formator utama yang membentuk diri kami sehingga akhirnya nanti kami pantas menjadi seorang imam/biarawan/biarawati yang seturut dengan perutusan kami masing-masing di dunia ini.
Secara umum aku berharap bisa menghidupi dan menghayati kutipan ini dalam keseharianku,
Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  (Gal 2:20)
Yogyakarta, 14 September 2014
The Pilgrim

Henrikus Prasojo





That's Day.....


“Aku mencari kebahagiaan di luar Allah,
dan setelah sekian lama yang kudapatkan hanyalah penderitaan.”
(St. Eugenius de Mazenod)

Hari ini aku benar-benar mengalami sebuah sentuhan dari Allah. Aku merasa seakan-akan mengalami apa yang dialami oleh St.Eugenius de Mazenod.
Sudah satu bulan lebih aku tinggal di Novisiat OMI, tapi tidak seluruh jiwaku hadir di tempat ini. segala emosi dan ekspresi memang terlihat meyakinkan, tetapi ternyata tetap saja jiwaku ini tidak utuh. Selalu ada bagian yang kosong. Selama satu bulan ini masih saja aku mencari kesenangan, dan yang kudapat hanyalah kesia-siaan. Berkali-kali jiwaku ini melayang ke luar Novisiat, dan yang kudapat hanyalah kesia-siaan yang berbuah galau.
Berawal dari kebodohanku dan teman seangkatanku di Seminari Wacana Bhakti Carol si gendut dan sulit untuk jadi kurus (sekarang Frater di KAJ). Dia meledekku dan bodohnya aku terpancing ledekan itu. Ledekannya memang tidak terlalu frontal. Yah, ledek-ledekan tentang topik klasik khas remaja. Bodohnya ini kami lakukan di sebuah situs Media Social yaitu Twitter.
Alhasil, yang bersangkutan pun melihat juga yang kami perdebatkan, dan tentu ia memberi respon, bahkan sebuah respon yang sangat jauh di luar perkiraanku. Gila, aku sendiri baru ingat bahwa ini adalah sebuah lapak umum. Kok bisa-bisanya aku terpancing temanku si gendut ini.
Seketika muncul perasaan tidak enak dengan yang bersangkutan. Aku jadi berpikir bahwa mungkin aku adalah orang jahat karena bersikap terlalu baik. Yah, memang aneh, tetapi memang terkadang perbuatan baik pun bisa berakibat buruk.
Perasaan tidak enak ini  terbawa terus selama perjalanan menuju Novisiat OMI di Jogja, bahkan sampai di Novisiat pun aku masih terganggu dengan perasaan ini.
Seperti biasa, semua kegundahan pasti akan kubawa dalam doa. Tapi situasi yang ekstrim ini membuatku tidak bisa berpikir jernih dalam doa. Dalam doa pribadi dan setiap kesempatan merenung aku selalu mengeluh kepada Tuhan, “Mengapa Kau biarkan aku jatuh cinta?”
Keluhan itu selalu keluar baik dalam doa pribadi, meditasi ataupun renungan malam, baik pagi-siang-malam. Yah memang suasana hatiku sangat amburadul.
Namun, hari ini Tuhan memberikan penerangan kepadaku. Mungkin Ia sudah tidak tega melihatku menderita akibat perbuatanku sendiri. apa yang Ia katakan? Sungguh jawaban yang sangat di luar perkiraanku dan sungguh bukan jawaban yang bisa kuduga-duga, “Bukan orangnya yang harus kau cintai. Tetapi Aku menghendaki supaya kamu mencintai Santo yang menjadi pelindungnya, nama baptisnya ! lewat dia lah Kutunjukan kepadamu hambaKu yang kiranya kau teladani. Sesungguhnya Aku telah menunjukan jalanKu kepadamu lewat pengalaman jatuh cinta itu !
Gila, lagi-lagi gila ! keras sekali jawaban Tuhan. Tetapi memang sangat tidak kuduga-duga akan seperti ini Ia menjawab aku. Ini menjadi sebuah pengalaman rohani paling istimewa seuumur hidupku. Sebuah pengalaman rohani yang tidak akan terlupa.
 Pengalaman rohani ini kudapatkan siang hari saat berjalan-jalan di kebun Novisiat OMI seusai makan siang. Dan saat itu jugalah aku tersadar bahwa sekali Tuhan memanggil, Tuhan tak akan berpaling. Sungguh kurasakan, belas kasih Tuhan tidak terkira sepanjang hidupku. Aku tidak lagi merasa seperti seonggok daging yang bergerak tanpa kesadaran, tetapi menjadi hidup kembali karena Roh-Nya. Aku bersyukur kepadaMu ya Tuhan dan amat berterima kasih atas pengalaman rohani yang boleh kudapatkan ini. Kau begitu pengasih walau sering aku tidak peka dengan kasihMu itu. Ini aku Tuhan, bentuklah aku menjadi bejana seperti yang Kau inginkan.

“1000 kali lebih senangnya, bahwa Bapa yang baik,
meskipun aku penuh dengan ketidaklayakan,
Ia menghujani aku dengan kekayaan belas kasihNya.”
(St.Eugenius de Mazenod)

Pengalaman rohani ini langsung kucatat dalam secarik kertas yang ada di kantongku, dan pengolahannya yang lebih mendalam kutulis pada malam hari sebelum istirahat malam. Sesudah hari ini, aku mencoba mengekspresikan pengalaman rohaniku dengan membuat sebuah poster promosi, walau aku tidak ahli dalam hal ini, tapi aku mencoba membuat dengan baik menggunakan program Corel draw (materi kelas XII IPS 2013). Ada rekomendasi, bahwa lebih baik menggunakan photoshop, tapi sayang saya belum pernah belajar menggunakan Photoshop.
Yogyakarta, 13 Agustus 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo



“Why you choose to love someone, if you can love everyone?
Why you choose to love someone, but not consider that God Have Loved you first?
I can’t marry, but my life is filled with countless love.”
(Henrikus Prasojo)

From them I’ve found God’s Love. They countless love are presenting God’s love and give many colour in my life…… xo
1.     








Minggu, 14 September 2014

Karena Hidup Tidak Selalu Datar


Pengalaman Mendaki Puncak Gunung Lawu

Naik-naik ke Puncak Gunung, tinggi-tinggi sekali. 2x
Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara. 2x
Lagu anak-anak di atas terdengar sangat riang, disajikan dengan nada yang ringan dan asyik dilantunkan. Namun lagu itu tidak berlaku bagiku ketika mendengar bahwa kami para Novis akan ikut bersama Frater Skolastikat mendaki Gunung Lawu. Membayangkan tingginya saja sudah membuat badanku pegal, apalagi harus mendaki. Bah, begitulah ekspresi spontan yang keluar dalam diriku.
Aku sadar betul bahwa aku bukanlah orang yang rajin olahraga dan punya fisik yang kuat, maka aku cenderung untuk menghindar dari kegiatan yang ekstrim-ekstrim seperti itu. Tapi, berhubung pilihan keduanya adalah menghabiskan waktu berduaan saja  dengan Magister Novis di Novisiat, saya menguatkan hati dan fisik saya untuk ikut acara mendaki gunung ini. hehehe
Kami mempersiapkan fisik maupun logistic selama akhir bulan Juli menjelang keberangkatan. Mulai “beronthel”  ria sepanjang jalan Kaliurang yang menanjak tidak karuan hingga membeli perlengkapan untuk mendaki gunung. Memang persiapan adalah senjata perang yang paling penting. Bodoh jika orang berperang tanpa membawa senjata.
Kami (Novis dan Skolastik) berangkat ditemani Romo.Ant.Widiatmoko, OMI selaku Rektor Seminari Tinggi OMI, yang juga menyelenggarakan kegiatan mendaki gunung ini. Dari Wisma de Mazenod (Seminari Tinggi OMI) kami memulai perjalanan .
Perjalanan cukup jauh. Dari Jogja kami pergi ke daerah Wonogiri tepatnya daerah Tawangmangu yaitu tempat  awal pendakian gunung Lawu. Rasa kantuk menyerangku dalam perjalanan dan membuatku bahagia menikmati perjalanan.
Sebelum acara pendakian aku menaruh rasa percaya penuh pada perkataan Magisterku itu tanpa memastikan sendiri kondisi aktualnya. Aku sempat merasa dikerjai oleh Magisterku yang mengatakan bahwa, “Puncak Lawu paling hanya 2500an Mdpl, suhu sekitar 15o -18o Celcius. Pake sepatu sandal aja. Malah biasanya pada pake sendal jepit .”
Akhirnya, tidak seperti frater2 lain yang menggunakan sepatu, hanya aku dan Aan yang menggunakan sandal gunung.  Padahal puncak Lawu yang akan kami daki memiliki ketinggian 3265 Mdpl, dengan suhu rata-rata saat siang hari 15 o -  5o Celcius  dan 4o 0o Celcius pada malam hari. Setidaknya itu yang ku rasakan dan memang tertera pada informasi dari Internet. 
Memang bagi yang berpengalaman, memakai sandal jepit untuk naik gunung adalah rekomendasi yang baik, tapi ternyata tidak bagiku yang benar-benar pemula dalam mendaki gunung. Selama perjalanan  telapak kakiku ini berulang kali tertimpa batu yang meluncur jatuh, ataupun beberapa kali tersangkut ranting kayu yang berjatuhan. Tidak jarang juga kaki ini terinjak frater lain yang ikut mendaki mulai dari yang tidak sengaja hingga yang disengaja, seperti yang dilakukan Frater Langet, OMI.
Jujur, bagiku yang lahir dan besar di daerah perkotaan, acara mendaki gunung ini adalah sebuah pekerjaan berat yang butuh perjuangan. Dari pos awal pendakian hingga sampai pos 3 aku masih punya semangat yang membara. Nafasku teratur, jalanku tegap, langkahku mantap dengan sandal gunungku.
 Namun apa daya, sampai di pos 3, jaket yang kugunakan mulai terasa setipis benang. Kugunakan jaket kedua yang kubawa dan tidak memberi efek sedikitpun. Rasa dingin yang belum pernah kurasakan seumur hidupku (di Jakarta suhu terendah adalah 16o Celcius, itupun karena pengaruh AC). Mataku melotot ketika Frater Arki, OMI melihat termometer yang dibawa Frater Denny, OMI menunjukkan angka 0o Celcius. Wleehh, beku sekali rasanya. Akhirnya dalam sedikit keputusasaan kami berhasil menghangatkan diri kami dengan api unggun yang telah kami buat.
Masih ada 2 pos lagi untuk sampai ke Puncak. Aku pun menguatkan tekad lagi agar bisa sampai ke puncak Lawu. Biar bagaimanapun, aku ingin sekali mencapai puncak Lawu dan menikmati pemandangan yang ada di atas sana sebagai suatu pencapaian hidupku. Namun apa boleh dikata, ada pepatah yang berkata “Nafsu besar, tenaga kurang” . Itulah yang terjadi pada diriku. Semangatku memang membakar, tetapi ternyata nafasku juga terbakar. Nafasku mulai terengah-engah ketika beranjak dari pos 3 menuju ke pos 4.
Aku yang tadinya mendaki di barisan depan, akhirnya malah ada di paling belakang bersama Frater Novis Andy (kami akrab memanggil Mas Andy). Inilah penggenapan Injil yang terjadi padaku: “Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (Mat 20 :16). Dan penggenapan Injil yang kedua adalah karena kami akhirnya berjalan berduaan saja dari pertengahan pos 3 menuju pos 4, seperti 2 murid yang berjalan menuju Emaus (Luk 24:13-35). Kami berdua tertinggal jauh dari Frater-frater lain yang fisiknya jauh lebih mantap daripada fisik kami.
Di pos 4 kami hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan perjalanan. Namun ada seekor burung indah yang baru pertama kali kulihat yaitu burung Jalak Bali, menghampiri kami berdua dan seakan-akan menunjukan jalan kepada kami. Kami berdua yang penasaran, akhirnya berjalan beriringan dengan burung Jalak tersebut yang hinggap kian kemari, berpindah-pindah pohon yang sejalan dengan jalur kami. Ternyata burung itu menuntun kami untuk bertemu dengan pendaki lain yaitu Frater Novis Alvin( akrab kami panggil Alvin). Kami mendapatkan teman seperjalanan.
Dengan semangat membara (tapi raga tertatih-tatih) kami bertiga berhasil melewati pos 5 dan hampir mencapai puncak. Kagetlah kami ketika kami naik ke puncak, para frater yang tadi sudah sampai terlebih dahulu hendak turun. Untunglah kami diberi kesempatan untuk tetap menikmati puncak gunung Lawu. Indah benar pemandangan di atas sana.
Aku menyesal telah mengeluh dan khawatir terlalu banyak sebelum berangkat mendaki gunung tanpa membayangkan dulu kenikmatan yang kini bisa kurasakan. Rasanya tidak salah lagu dari Puji Syukur no.707 kulantunkan dalam hati, “Betapa tidak kita bersyukur, bertanah air kaya dan subur. Lautnya luas gunungnya megah. Menghijau Padang bukit dan lembah.” Keindahan dalam lagu itu terealisasi dengan jelas lewat mataku sendiri di puncak Lawu. Betapa puas hati kami bertiga dapat sampai ke puncak Gunung Lawu ini.
Ternyata perjuangan belum berakhir. Tidak kami kira bahwa turun dari gunung membutuhkan perjuangan juga. Rasa lelah mendaki terakumulasi ketika harus menahan berat badan untuk menuruni puncak. Inilah yang kerap terjadi pada kebanyakan orang. Terlalu cepat menganggap enteng suatu perkara. Terlihat mudah namun ternyata sulit juga. Kita kerap mempersiapkan keberangkatan saja seakan-akan setelah sampai di tujuan urusan sudah selesai, padahal masih ada perjalanan pulang yang perlu kita persiapkan pula.
Itulah pengalamanku mendaki dan menuruni gunung Lawu. Tentu aku tidak pulang hanya membawa badan pegal dan encok saja. Aku punya pengalaman berharga ini, dan kujadikan sebagai pembelajaran bagi hidupku, yang selama ini nyaman dilindungi oleh atmosfir Metropolitan kota Jakarta.
 Dari pengalaman ini aku belajar untuk berjuang keluar dari zona nyamanku dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Inilah hidup, inilah kehidupan kita. Hidup kita tidak selalu datar . Perjalanan dan peziarahan hidup kita adalah perjalanan hidup yang dinamis, memiliki kecenderungan untuk naik dan turun.
Keberhasilan memang ada di puncak gunung, tetapi puncak gunung itu bukanlah milik kita sendiri. Ada orang lain yang juga berusaha mendaki dan mencapai puncak gunung tersebut, sehingga kita pun mau tidak mau harus turun dari puncak itu.

Menurut Romo Widi, OMI, banyak manusia siap untuk kesuksesan, tetapi tidak siap menghadapi masa turun dari kesuksesannya. Banyak orang mengalami Post Power Syndrome dan cenderung mudah marah, sentimental dan mudah tersinggung di hari tuanya. Kerap kita merasa nyaman-nyaman saja dengan kedataran kita ini. Kita lupa bahwa masih ada sesuatu yang bisa kita perjuangkan, yang ada di puncak sana. Begitu pula ketika kita sudah menikmati puncak, kitapun harus siap untuk turun dari puncak gunung tersebut. Sekali lagi, karena hidup kita tidak selalu datar .

Yogyakarta, 7 Agustus 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo

Imogiri

Libur lebaran ini, kami para Novis diperbolehkan untuk berlibur dan mengunjungi makam suci para sultan di Imogiri. Perjalanan cukup jauh, 2 jam perjalanan dari Novisiat OMI dan perjalanan itu kami tempuh menggunakan kendaraan kebangsaan para biarawan/wati di Jogja yaitu Onthel.
            Luar biasa lelahnya, kakiku terasa pegal. Aku memang belum terbiasa dengan kendaraan ini. Jarak yang jauh ditambah dengan udara yang cukup panas membuat perjalanan terasa sangat melelahkan.
Aku mengira di Yogyakarta suhu akan dingin sepanjang hari, ternyata saat siang hari panasnya sama seperti di Jakarta. Hanya saat malam dan pagi hari saja udara menjadi dingin.
Setelah melalui perjuangan panjang yang rasanya sama seperti nge-gym seharian, kami sampai di Makam Suci Imogiri. Di sana kami menikmati suasana rindang dan melihat berbagai macam kebudayaan makam Jawa.
Selain untuk liburan, alasan lain kami untuk pergi ke Imogiri adalah sebagai persiapan acara mendaki gunung yang diadakan Agustus mendatang. Maksudnya persiapan adalah kami melatih fisik kami supaya siap untuk mengikuti acara mendaki gunung.
Kuakui ini perjalanan yang cukup menyenangkan sekaligus melelahkan. Setidaknya dua tujuan kami terpenuhi yaitu liburan dan latihan fisik. Terima kasih Tuhan atas hari ini.

Yogyakarta, 28 Juli 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo




Sabtu, 13 September 2014

Welcome Ceremony Mass

13 Juli 2014,
            Pada hari ini diadakan perayaan Ekaristi penerimaan Novis OMI baru per.2014/2015 dan sekaligus pengikraran kaul pertama Fr.nov Albertus Gelar Jiwa, OMI. Acara ini dilaksanakan di Kapel Novisiat OMI Beato Joseph Gerard, Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
            Acara ini tidak hanya dihadiri seluruh Komunitas Formasi OMI, tetapi dihadiri juga oleh sahabat-sahabat OMI seperti suster-suster CB dan OP, para umat lingkungan, karyawan seminari dan kerabat OMI.
            Pada hari inilah kami berempat yaitu Aandrianus(Calon Bruder asal Dankan Silat), Flavianus Asalau Onlet (Calon Imam asal Tarakan), Hendrianus Wendi (Calon Imam dari Sepauk), dan saya (Calon Imam asal Jakarta) mengucapkan janji untuk memberi diri dibentuk dalam program formasi Novisiat OMI tahun pertama selama 8 bulan.
            Dengan pengucapan janji ini, program Novisiat kami resmi dimulai untuk 8 bulan kedepan. Setelah menjalani masa Novisiat I selama 8 bulan, kami akan penjubahan dan mulai masuk program Novisiat II (Novisiat Kanonik) selama 15 bulan.
            Semoga Allah selalu menyertai kami dalam perjalanan kami selama-lamanya.

Laudetur Jesus Christus et Maria Immaculata.
(Merupakan Salam yang dipakai antar anggota OMI di seluruh dunia)
Yogyakarta, 13 Juli 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo



The Arrival

Tanggal 10 Juli 2014 pukul 07.00 WIB, aku menginjakan kaki di Stasiun Lempuyangan Jogja. Udara pagi Jogja lebih segar ketimbang aku bangun pagi di Kampung Sawah untuk misa pagi dan menghirup asap orang yang berbondong-bondong mencari nafkah.
Dari stasiun kami menggunakan taksi untuk menuju ke Novisiat OMI. Tersesat dan tidak berhasil menemukan Novisiat OMI, kami pun bertanya ke beberapa orang hingga akhirnya setelah satu setengah jam berputar-putar antara minomartani dan condongcatur, kami menemukan dusun blotan. Sulit sekali mencari Novisiat OMI karena memang ada di tengah kampung dan dikelilingi oleh sawah.
Kedatangan kami disambut hangat oleh Magister (Romo Andri Atmaka, OMI) dan Socius (Romo Antonius Sussanto, OMI). Para frater novis yang lain sedang mengikuti pelajaran di unit De Mazenod. Angkatanku menunggu di unit novis I yaitu unit Borzaga.
Orangtuaku pun ikut diajak berkeliling melihat kompleks Novisiat OMI Beato Joseph Gerard, mulai dari gerbang depan hingga kandang ternak yang ada di paling belakang. Mereka juga melihat kamarku.
Selesai berkeliling mereka pamit kepada Romo, mereka akan berlibur sebentars selama 2 hari 1 malam di Jogja. Mereka ingin merefresh pikiran dengan honeymoon jilid II. Yah, slamat jalan….sampai jumpa suatu saat nanti...doaku selalu menyertai kalian.
Setelah mereka pulang, aku mengemas bawaanku, kumasukan dalam lemari kamar dengan sistematis dan rapi. Ternyata dihari pertama ini, kegiatan resmi belum dimulai. Aku diperbolehkan untuk istirahat untuk melepas lelah. Yah aku bersyukur mendapat kesempatan istirahat dulu sebab perjalanan dengan kereta api Ekonomi cukup melelahkan karena kursi penumpang tidak bisa diubah posisinya.
Sore hari ada acara menangkap ikan Nila yang dipelihara sendiri. ikan-ikan itu ditangkap untuk dijadikan santapan pada hari penerimaan. Hari penerimaan Novis I per.2014/2015 akan diadakan pada tanggal 13 Juli 2014, kebetulan sekali bertepatan dengan PF.Santo Henrikus, nama babtisku.
Tetapi karena masih kelelahan, pada sore hari aku terlambat bangun. Dan ketika aku bangun semua ikan sudah ditangkap dan anggota komunitas nyengir-nyengir kepadaku yang terlihat puas membaringkan badan selama berjam-jam. Hehehe………
Yogyakarta, 10 Juli 2014
The Pilgrim

Henrikus Prasojoar

The Departure

All my bags are packed, I'm ready to go, I'm standing here outside your door,
I hate to wake you up to say good-bye.
But the dawn is breaking, it's early morn, the taxi's waiting He's blowing his horn.
Already I'm so lonesome I could die.
So kiss me and smile for me, tell me that you'll wait for me, hold me like you'll never let me go.
'Cause I'm leaving on a jet plane, don't know when I'll be back again. Oh, babe, I hate to go.


(John Danver – Leaving on a Jet Plane)
This is it…
Show must go on….
Aku ingat akan pepatah Duc in Altum, sebuah seruan latin yang berarti bertolaklah ke tempat yang dalam (Bdk Lukas 5: 4). Ya, aku akan menuju tempat yang lebih dalam dari sebelumnya. Aku merasa tempat yang akan kutuju adalah laut dalam yang gelap, yang aku sendiri tidak tahu persis seperti apa isinya. Yang aku tahu di dalam sana ada harta karun yang aku cari dan banyak sekali yang telah aku tinggalkan untuk mencari harta karun tersebut.
                Aku adalah alumnus Seminari Menengah Wacana Bhakti yang baru saja lulus. Langkah selanjutnya aku melamar ke Kongregasi Oblat Maria Imakulata(OMI) dan mereka menerimaku sebagai Novis mereka. Kongregasi memintaku untuk sampai di Novisiat di Yogyakarta tanggal 10 Juli 2014.
                9 Juli 2014, pukul 22.30 begitulah tercetak dalam tiket kereta yang sudah kubeli untuk berangkat ke Jogja. Aku berangkat bersama kedua orangtuaku, walaupun tidak kuminta. Saking inginnya mereka mengantarku ke Yogya, mereka membeli tiket kereta dengan jadwal yang sama secara diam-diam.
Aku baru tahu mereka ikut di kereta yang sama adalah dua hari sebelum keberangkatan, saat aku mengantar bapak ke Stasiun Pasar Senen. Aku mengira bapak akan beli tiket untuk berlibur ke Kediri (kampung halaman kami), ternyata tidak.
Alhasil kami berangkat ke Yogyakarta dengan kereta yang sama namun gerbong yang berbeda. Aku di gerbong 1 dan orangtuaku di gerbong 3.  Mereka sempat menawariku untuk pindah ke gerbong 3 juga karena kosong, tetapi aku menolak sebab sebenarnya aku ingin merasakan sensasi naik kereta api sendirian.
Aneh memang rasanya satu keluarga terpisah dalam satu kereta yang sama. Tapi ini adalah komitmenku untuk belajar rela dan lepas. Kunikmati perjalanan di Kereta Ekonomi Progo bersama penumpang-penumpang asing yang ramah.
Ada perbedaan sensasi antara kereta malam dan kereta pagi. Jika aku naik kererta pagi (Gajah Wong), aku bisa melihat pemandangan selama perjalanan.  Tetapi jika naik kereta malam pemandangan tidak terlihat. Yang terjadi malah aku sering membayangkan sesuatu dan berimaginasi sesuai pikiranku sendiri mau memikirkan apa. Salah satunya adalah merenungkan sebuah rasa janggal yang disebabkan oleh perbuatan teman angkatanku di Seminari yang sekarang adalah Frater Dioses Jakarta. Rasa janggal yang kalau boleh kuminta tidak pernah kualami, tetapi itu sudah terjadi.
Ah, rasanya seperti malam syahdu, dan mengapa lagu ini ada di playlist pertama di ipod?
Here I am waiting
I’ll have to leave soon
Why am I holding on?
We knew this day would come
We knew it all along
How did it come so fast?

This is our last night but it’s late
And I’m trying not to sleep
Cause I know, when I wake, I will have to slip away

And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close

Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh

Here I am staring at your perfection
In my arms, so beautiful
The sky is getting bright, the stars are burning out
Somebody slow it down

This is way too hard, cause I know
When the sun comes up, I will leave
This is my last glance that will soon be memory

And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close

Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh

I never want it to stop
Because I don’t wanna start all over
Start all over
I was afraid of the dark
But now it’s all that I want
All that I want, all that I want

And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close

And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close

Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa (yeah), oh-whoa (yeah), oh-whoa (yeah), oh-oh-oh-oh-oh-oh (yeah)
Oh-whoa (yeah), oh-whoa (yeah), oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
(Daylight-Maroon 5)

Yogyakarta,10 Juli 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo







Before The Day Come

I’ll never say good bye
Because we’ll meet again
But now I have to leave you for a while
And meet you again next time
With a new form of me…….

“Mereka pun meninggalkan segala sesuatu lalu pergi mengikuti Yesus.”
Aku tidak pusing untuk meninggalkan barang/harta benda, tetapi agak sulit bagiku pergi meninggalkan mereka, walau hanya sesaat :                                                                                                 
            1. Keluarga P.Sumadi
                Sebuah keluarga sederhana yang maka dari itu nama Prasojo diberikan kepadaku yang adalah anak terakhir, sebab aku lahir dalam kesederhanaan. Kesederhanaan juga menjadi sebuah harapan mereka kepadaku agar aku menjadi orang yang Prasojo. Walau sudah pernah pisah dengan keluarga selama 4 tahun di Seminari Wacana Bhakti, kali ini akan menjadi lebih menantang karena aku akan terpisah jauh dari mereka. Mereka tidak mungkin mengunjungiku setiap bulan, dan aku pun tidak pulang selama liburan. Jatah liburku 4 tahun sekali. Jika aku pulang sebelum 4 tahun hanya ada 2 kemungkinan yaitu, pertama ada keluarga kandungku yang harus berpulang, atau kedua aku sudah tidak diperkenankan untuk melanjutkan masa formasi di Seminari Tinggi ini. Sebenarnya ada kemungkinan ketiga yaitu aku mengundurkan diri, tetapi aku punya komitmen yang tinggi untuk tidak akan menyerah dalam situasi apapun. Aku berhenti setelah Tuhan berkata cukup, dan kuharap Tuhan tidak akan berkata demikian kepadaku

       2.   LADOSCO
Mereka adalah keluarga keduaku. Saudara-saudara perjuangan di Seminari Wacana Bhakti. Bersama mereka aku mendapatkan berbagai pengalaman dan belajar memaknai hidup di Seminari Wacana Bhakti. Komitmen dan solidaritas kuat menjadi ciri khas kami. Bersama mereka aku merasakan pengalaman membangun keluarga(bukan keluarga dalam ikatan darah) mulai dari membentuk fondasi, merasakan masa krisis dan berusaha melewatinya bersama sebagai saudara. Viva LADOSCO.




3            3.  Misdinar Kalvari
Disinilah api panggilan dalam diriku berkembang. Karena mereka aku mengenal Seminari Wacana Bhakti. Bersama mereka aku memperdalam liturgy dan penghayatannya dalam gereja Katolik. Disini juga aku membuat kekacauan dalam acara pelantikan misdinar baru. Mereka pasti masih ingat kejadian itu, dimana aku dipercaya menjadi koord sie.acara tetapi malah tidak terorganisir dan kacau balau. Tentu saja setelah itu diikuti berbagai macam evaluasi yang waktu itu sempat membuatku kehilangan kepercayaan diri. Tetapi dari pengalaman ini ternyata menjadi bekal bagiku saat berorganisasi di Seminari Wacana Bhakti, khususnya saat aku dipercaya oleh Komunitas SWB untuk menjadi Bidel Umum (sebutan Ketua Osis di Seminari ), dan aneka tanggung jawab kategorial lainnya dalam Orkestra dan Jurnalistik. Dalam misdinar kalvari juga aku merasakan pengalaman jatuh cinta, sebuah pengalaman yang cukup memberi warna dalam dinamika hidup panggilanku. Hehe.


4. Ojanisation
Sekumpulan anak-anak koplak yang mengidolakan artis koplak di tayangan Sketsa yaitu Ojan. Mereka adalah teman-teman terdekatku saat aku SMP. Sebenarnya banyak teman dekat, tapi mereka yang paling dekat. Mereka sudah melanglang buana ke berbagai penjuru yang sudah sangat sulit untuk kujangkau. Yang kubisa hanyalah mendoakan mereka, semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi.
5. Musica Sacra de Calvary Chamber Orchestra
Bersama mereka aku mencicipi aneka musik klasik. Dari mereka aku mendapat keterampilan baru dalam alat musik yaitu flute. Aku tidak punya flute tetapi karena aku mau belajar, aku dipinjami oleh mas Adi dan mas Odka. Aku pernah menyumbangkan 5 karyaku untuk MSdC, yaitu satu set aransemen Ordinarium C Pustardos dan satu aransemen Bapa Kami ciptaan Pak Putut P. Terima kasih MSdC atas segala kesempatan dan pengalamannya.
                Tulisan ini bukan untuk perpisahan, hanya sekedar mengingat mereka-mereka yang berjasa memberi warna dalam menjalani panggilan sebagai seorang seminaris di Seminari Menengah. Kini aku akan bertemu dengan warna-warna baru di Seminari Tinggi, semoga Tuhan pun merestui jalanku hingga tuntas seperti Ia menyertaiku saat di Seminari Menengah.