Rabu, 06 Maret 2019

Perayaan yang Menggembirakan


HR Santa Maria Imakulata
Perayaan yang Menggembirakan

8 Desember merupakan hari yang istimewa bagi Keluarga Besar Oblat Maria Imakulata, sebab pada hari tersebut Gereja Universal merayakan Hari Raya Santa Maria Imakulata yang adalah pelindung Kongregasi OMI.

Sekilas Dogma Maria Immakulata
Praksis penghormatan kepada Maria Imakulata sudah berkembang dalam tubuh Gereja jauh sebelum Dogma Maria Imakulata definitif diserukan bagi Gereja, bahkan Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI) berdiri lebih dahulu daripada Dogma tersebut. Doktrin tentang kesucian Maria yang sejak lahir tidak bernoda dikembangkan oleh para Bapa Gereja Kuno pada abad Keempat. Sebutlah diantaranya Santo Ephrem, Santo Ambrosius dan Santo Agustinus, yang masing-masing memiliki pemikiran teologis bahwa Maria adalah suci dan tak bernoda.[1]
Seringkali Doktrin ini mendapat serangan balik karena Kitab Suci tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa Maria dikandung tidak bernoda. Dasar alkitabiah yang dapat menjelaskan keutamaan Maria ini bisa kita lihat dalam Injil Lukas 1:28 yaitu ungkapan malaikat Gabriel kepada Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan Menyertai Engkau.”
Bila melihat teks asli dari Injil Lukas Bahasa Yunani, frasa tersebut berbunyi κεχαριτωμενη (kecharitomene) yang berarti “yang diberkati”. Dalam terjemahan Latin (Vulgata) frasa tersebut diterjemahkan “gratia plena” yang berarti “penuh rahmat”. Frasa ini secara inplisit memberi kesaksian tentang keunggulan Maria yang diakui oleh Malaikat Gabriel yaitu “diberkati, penuh rahmat, atau dikaruniai”.  Dari teks ini, mau ditekankan peranan Allah yang menguduskan Maria dan secara khusus memilihnya untuk mengandung, melahirkan dan merawat Sang Juruselamat.
Dengan berpegang pada teks ini, banyak teolog yang mengungkapkan bahwa Maria memiliki segala rahmat yang diberikan Allah. Dari pemikiran bahwa Maria menerima rahmat penuh dari Allah, para teolog menarik bermacam-macam pemikiran misal bahwa Maria tidak berdosa, tidak membawa dosa asal, dikandung tanpa noda.[2]
Doktrin ini terus berkembang dengan pro dan kontranya melalui zaman ke zaman hingga puncaknya ketika berkembang gerakan doa yang berdevosi kepada Bunda Maria Imakulata dengan rumusan” O Maria yang dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang memohon pertolonganmu.”[3]
Barulah melalui Bulla Ineffabilis Deus pada 8 Desember 1854 yang dikeluarkan oleh Paus Pius IX, Gereja menghormati Maria secara definitif sebagai pribadi “Yang Terberkati” – “Yang Penuh Rahmat” – Yang suci dan Tak bernoda dan menjadikan Maria Imakulata sebagai salah satu Dogma dalam Gereja Katolik. Konsili Vatikan II pun menegaskan keutamaan yang dimiliki Maria ini. Dalam Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium dikatakan, “Maria yang menerima Yesus dalam rahimnya adalah suci seutuhnya dan tidak tercemar dosa mana pun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus.” (LG 56).

Maria Imakulata Bagi Kongregasi OMI
            Santo Eugenius de Mazenod-pendiri OMI, memiliki devosi yang kuat kepada Santa Perawan Maria sejak masa mudanya. Di masa-masa awal kongregasi OMI hadir, Santo Eugenius de Mazenod membiasakan komunitas untuk saling memberi salam dengan mengatakan “Terpujilah Yesus Kristus, dan Maria Imakulata”. Salam ini juga pernah digunakannya ketika mendampingi asosiasi kaum muda di Aix, juga dalam misi parokinya.[4]
Dalam Konstitusi dan Aturan Kongregasi OMI No.10 dikatakan, “Bunda Maria Tak Bernoda adalah pelindung Kongregasi.....Kita akan memandang Maria sebagai ibu kita, Dalam kedekatan yang mendalam dengan Maria, Bunda Belaskasih, kita menghayati penderitaan dan kegembiraan sebagai misionaris. Dalam Konstitusi dan Aturan ini terlihat peranan dan kedudukan Maria dalam Kongregasi OMI serta bagaimana seorang Oblat bisa meneladan hidup iman Maria.”[5]
Perlu diingat kendati menyandang nama Maria, spiritualitas yang paling utama dalam Kongregasi OMI adalah mewartakan Kristus yang tersalib. Maria Imakulata berperan sebagai pelindung karya misi dan hidup bakti OMI. Maria menjadi model persembahan diri Oblat, sebagaimana Maria mempersembahkan dirinya sendiri sebagai hamba Allah yang rendah hati.
Berkat kesucian yang diterimanya dari Allah, Maria menghadirkan Yesus Sang Allah Putera bagi dunia. Para Oblat yang menyandang nama Maria dengan penuh cinta dan rasa bangga juga menerima perutusan yang sama, yaitu untuk menerima rahmat kesucian Allah lewat pengudusan diri dan menjalankan karya misioner mewartakan Kabar Sukacita Yesus bagi mereka yang tidak terlayani.

Sebuah Perayaan yang Menggembirakan
            Merayakan Hari Raya Santa Maria Imakulata pada tanggal 8 Desember adalah sebuah momen untuk meneguhkan iman kita sebagai seorang beriman. Merayakan momen ini menegaskan kesadaran betapa besarnya peran Allah bagi keselamatan manusia. Allah pertama-tama memilih orang yang dikehendaki, menguduskannya, dan menjadikannya alat bagi Allah untuk membawa keselamatan dan semua itu nampak dalam diri Maria Imakulata yang dirayakan pada hari ini. Perayaan ini juga menjadi sebuah perayaan yang menggembirakan bukan karena semata-mata dirayakan dengan liturgi meriah, pesta besar ataupun hiruk-pikuknya, tetapi terutama karena dalam perayaan ini kita diingatkan siapa jati diri kita yang sejati.
            Melalui perayaan ini, kita semua diajak untuk mengingat kembali siapa jati diri kita yang sesungguhnya. Kita adalah para Oblat-Nya (baik religius maupun awam), dipilih dari tengah dunia, dikuduskan dengan berkat dan rahmat-Nya, serta diutus-Nya mewartakan kabar sukacita melalui perkataan maupun perbuatan kita. Kita diundang untuk melaksanakan karya perutusan yang dipercayakan kepada kita dengan penuh sukacita dan tanggung jawab, juga dengan perlindungan Bunda Maria Imakulata kita akan menerima kekuatan untuk mengatasi segala kesulitan yang kita hadapi.
            Bunda Maria Imakulata melindungi setiap karya hidup bakti kita, baik bagi para Imam yang menguduskan dunia lewat pelayanan sakramen, bagi para bruder dan suster yang membawa kesaksian hidup religius yang sejati serta melayani dunia dengan keahlian di bidangnya masing-masing, juga melindungi segenap Oblat Awam yang berjuang di tengah dunia memberi kesaksian hidup seorang Kristiani sejati yang penuh cinta kasih. Dengan peran dan panggilan yang kita miliki masing-masing, kita semua diajak untuk seperti Bunda Maria, menghadirkan Yesus bagi sesama.
            Sungguh momentum iman yang luar biasa. Semoga kita semua bisa menjadi berkat dan sukacita bagi setiap mahkluk yang kita jumpai. Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata.

Semoga kita mengerti dan menyadari siapa kita ini sesungguhnya! Saya berharap Tuhan akan menganugerahkan rahmat ini dengan bantuan dan perlindungan Bunda kita yang kudus, Maria Imakulata.” (Santo Eugenius de Mazenod).

-Skolastik Henrikus Prasojo, OMI-

Referensi:
O’Carrol, Michael
            1987    Theotokos: A Theological Encyclopedia of the Blessed Virgin Mary. Quezon
                      City: Claretian Publications.
Eddy Kristiyanto OFM, A
            1987    Maria Dalam Gereja. Yogyakarta: Kanisius.
Lembaga Alkitab Indonesia
            1989    Kitab Suci Perjanjian Baru Yunani-Indonesia. Jakarta: LAI.
Ciardi OMI, Fabio dkk
            2000    Dictionary of Oblate Values. Rome.
Asodo OMI, Henricus
            Draft Terjemahan Prancis-Indonesia Konstitusi dan Aturan Kongregasi OMI.
Hardawiryana SJ, R. (Penerjemah)
            2013    Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor.



[1] Michael O’Carrol. Theotokos: A Theological Encyclopedia of the Blessed Virgin Mary. (Quezon City: Claretian Publications, 1987). Hlm. 180
[2] A. Eddy Kristiyanto OFM. Maria Dalam Gereja. (Yogyakarta: Kanisius, 1987). Hlm. 39
[3] Michael O’Carrol. Hlm.182
[4] Fabio Ciardi OMI, dkk. Dictionary of Oblate Values. (Rome, 2000). Hlm. 535
[5] Henricus Asodo OMI (penerjemah). Draft terjemahan Prancis-Indonesia Konstitusi dan Aturan Kongregasi OMI.

Panggilan Apostolik di Era Digital


Hi my name’s Pras, 22-M-Yogyakarta and you? ASL Please? Hi my name’s Jesus, 33-M-Nazareth. Pernahkah anda sekalian melihat format text message/chat seperti ini? Format percakapan dunia maya ini diawali dengan memperkenalkan diri, lalu memberi informasi dengan urutan ASL- yang kepanjanganya adalah Age-Sex-Location. Ini adalah format text message  yang umum digunakan ketika seseorang ingin berkenalan dengan orang-orang baru lintas negara.
            Coba bayangkan ketika di kolom chat media sosial anda ada sebuah pesan masuk berbunyi, “Hi my name’s Jesus, 33-M-Nazareth, and you? ASL please…” bukankah kita akan tersentak dan kaget? Akankah kita menjawab pesan tersebut? Mengingat banyak sekali Hoax tersebar di media sosial, tentu anda akan membiarkan itu berlalu begitu saja, tidak membalasnya. Mungkin anda berpikir, itu hasil perbuatan orang iseng dan jahil saja yang sedang mencari sensasi.
            Namun saya membanyangkan bahwa mungkin saja, suatu saat hal semacam ini secara ajaib akan terjadi. Zaman ini sudah masuk era digital, orang-orang sudah sangat akrab dengan media sosial khususnya yang ada di gadget. Dunia maya telah merasuki dunia nyata dengan aneka informasi dan dinamikanya.
Tidak di Jakarta, tidak juga di Yogyakarta, saya melihat Pastor-Pastor Paroki menggunakan semacam Tablet Elektronik (Samsung/Apple) untuk dipakai selama Perayaan Ekaristi (entah untuk melihat TPE, atau membaca Injil). Lihat, bukankah akhirnya gadget sudah amat dekat dengan lingkungan Gereja? Gadget dan segala aplikasinya sudah masuk ke dalam kehidupan Gereja, bahkan sudah masuk ke dalam Liturgi Gereja, waw luar biasa. Ketika saya dan beberapa konfrater ikut misa lingkungan, Lektor dan Pastor membaca bacaan menggunakan gadget mereka masing-masing. Praktis memang, tapi rasanya kok….. hmmmm…….

Apakah Allah Mewahyukan Diri-Nya dalam Gadget dan teknologi manusia?
Teologi Katolik jelas sekali meyakini serta mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi diperlihatkan-Nya dengan perantaraan para Nabi (Kitab Suci PL) hingga akhirnya melalui Yesus Kristus- Allah yang menjadi manusia (Ibr. 1:1-2; bdk. Kon.Vat.II Dei Verbum Art 4, Par 1). Yesus sebagai Allah yang hadir di tengah manusia, bersabda dan mengatakan kepada manusia bagaimana hidup dalam Allah. Setelah karya keselamatan-Nya dalam misteri S-W-B (Sengsara-Wafat-Bangkit), pewahyuan diteruskan kepada para rasul yang hidup sezaman dengan-Nya, dan kini kita bisa mengenal pewahyuan-pewahyuan karena pewahyuan yang sudah dipenuhi dalam diri Yesus Kristus telah dituliskan dan diwariskan secara turun-temurun dalam Kitab Suci Deuterokanonika.
Sekarang ini, Kitab Suci pun sudah hadir dalam bentuk digital. Yang penting untuk diperhatikan dalam menanggapi fenomena ini adalah disposisi batin kita sebagai orang yang diberi Wahyu Ilahi. Wahyu merupakan inisiatif Allah untuk mengungkapkan kehendak-Nya atas diri kita (bdk. Kon. Vat.II Dei Verbum Art 2, Par 1), tetapi inisiatif Allah itu masih merupakan tawaran. Kita diberi tawaran inisiatif Allah yaitu pewahyuan-Nya, tetapi kita perlu menanggapinya pula yaitu dengan iman kita. Agar tawaran inisiatif Allah itu menjadi nyata dalam diri kita, kita mempersembahkan seluruh keyakinan iman kita, harapan hidup kita, hanya pada Dia yang sedang mewahyukan Diri-Nya kepada kita (bdk. Kon.Vat.II Dei Verbum Art 5). Maka dari itu, perlu kepenuhan dan totalitas perhatian dan segenap diri kita untuk bisa menerima pewahyuan itu. Perhatian yang terbagi dan hati yang tidak terarah pada-Nya tidak akan mengantar kita kepada isi pewahyuan itu.
Penting bagi kita menyadari konsep Wahyu-Iman dalam Teologi Katolik seperti secara ringkas saya jelaskan pada alinea sebelumnya, mengapa? Karena dari situlah kita bisa bersikap atas gadget dan media elektronik lainnya sebagai salah satu sarana pewahyuan diri Allah. Jika kita diminta iman yang penuh dan terarah serta total untuk dapat menerima Wahyu Ilahi, maka masing-masing dari kita bisa merefleksikan sendiri apakah Gadget sungguh-sungguh membantu saya mengarahkan hati dan segenap diri saya untuk menerima pewahyuan? Kita semua tahu bahwa dalam gadget kita mungkin ada aplikasi E-Katolik dan sejenisnya, tetapi selain itu ada juga aplikasi lainnya yang sifatnya profan dan tidak sedikit yang punya sistem auto-update. Akan ada banyak gangguan dan godaan ketika membaca isi Kitab Suci melalui Gadget. Katakanlah baru membaca satu ayat, tiba-tiba sudah ada pesan masuk dari aplikasi Media Sosial seperti Line atau WA. Jika anda sendiri bisa mengatasi dan mengontrol hal itu, maka tidak menjadi masalah.
Jika segala gangguan dan godaan itu telah bisa diatasi, dan kita bisa sungguh-sungguh mengarahkan diri hanya pada Dia yang sedang mewahyukan diri-Nya dalam teks-teks Kitab Suci yang kita baca, maka bisa dikatakan pula bahwa gadget menjadi salah satu sarana Allah mewahyukan diri-Nya karena kini Kitab Suci dapat dibaca pula melalui gadget. Perlu mendapat perhatian, Dr. Emmanuel.P.D Martasudjita, Pr- seorang imam dan ahli liturgi mengungkapkan bahwa tetap lebih baik bila kita menggunakan buku Kitab Suci manual, karena itu juga melambangkan kita yang ingin meninggalkan kesibukkan duniawi kita, memberi waktu untuk Tuhan, mengambil Kitab Suci, membacanya, dan menerima inspirasi dan Pewahyuan dari-Nya melalui teks-teks Kitab Suci tersebut. Maka pilihan untuk membaca Kitab Suci dari buku Kitab Suci (bukan dari gadget) tetaplah menjadi prioritas utama yang harus diusahakan setiap kaum beriman.

Panggilan Apostolik
Selain menggunakan gadget sebagai salah satu sarana pewahyuan Ilahi, kita mendapat panggilan untuk juga meneruskan pewahyuan ilahi tersebut. Pewahyuan Ilahi Allah memang mendapat kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, namun pewahyuan itu diwariskan secara turun-temurun inter-generasi dalam tradisi yang amat panjang hingga hari ini. Wahyu Ilahi dari Allah diteruskan pertama-tama kepada para Rasul kemudian kepada para pengganti-penggantinya (Para Uskup) yang kita tahu mempunyai kuasa mengajar (Magisterium) di dalam Gereja (bdk. Kon.Vat.II Dei Verbum Art 7).
Namun tugas pewartaan itu tidak hanya ada di pundak para Uskup sebab pada dasarnya Yesus juga mengutus kita, “dan, apa yang Kubisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.” (Mat 10: 27b). Apabila kita menerima bisikkan dari Wahyu Ilahi, kita wajib untuk mewartakannya bukan dengan ragu dan malu, tetapi Yesus bersabda “Di atas Atap Rumah”. Setelah kita menerima Wahyu Ilahi, Yesus menghendaki kita untuk menjadi pewarta juga.
Untuk itu, Gereja menyambut baik kehadiran teknologi-teknologi yang dibuat manusia sebagai salah satu hasil kecerdasan ciptaan Allah, Gereja menghargai usaha-usaha itu terlebih karena mampu menggerakkan banyak orang. Tentu saja Gereja menghargai semua usaha itu yang sifat dan arahnya positif (bdk. Kon.Vat.II Inter Mirifica Art 1). Orang Katolik tidak dilarang menggunakan aneka teknologi-teknologi yang ada untuk perkembangan media sosial.  Semua anggota Gereja berhak untuk menggunakannya sejauh berguna bagi pendidikan Kristen dan seluruh karyanya demi keselamatan manusia. Kita diundang untuk menggunakan teknologi-teknologi yang ada, demi pewartaan karya keselamatan Allah bagi dunia. Kita diundang untuk menggunakan teknologi sebagai salah satu sarana pewartaan kita (bdk. Kon. Vat.II Inter Mirifica Art 3).
topik ini mungkin bukanlah suatu topik yang baru, dan memang sering dikumandangkan oleh Gereja agar semua umat beriman menggunakan teknologi-teknologi yang ada untuk mewartakan Kristus di seluruh dunia. Jangkauannya yang melebihi batas-batas negara memampukan pewartaan berlangsung cepat dan efektif. Tahta Suci pun telah melaksanakan panggilan apostolik di era digital dengan merasul melalui akun media sosial Twitter – Facebook dan lainnya.
Minggu Paskah Ketujuh tahun ini adalah Hari Komunikasi Sosial. Gereja merayakan Hari Komunikasi Sosial ini guna memantapkan macam-macam upaya komunikasi sosial. Pada hari inilah seluruh umat beriman diajak untuk memanjatkan doa bagi kerasulan dalam komunikasi-komunikasi sosial yang semakin efektif dan juga kita semua diajak untuk menyadari kewajiban-kewajiban kita di bidang komunikasi sosial, menjadi rasul yang menjalankan panggilan apostolik di era digital ini bdk. Kon.Vat.II Inter Mirifica Art 18). Kita bisa bertanya pada diri kita masing-masing, sudahkah kita melaksanakan panggilan apostolik itu dengan teknologi-teknologi yang ada di dekat kita? Sudahkah kita mewartakan nilai-nilai Kristiani dan mewartakan Kabar Gembira melalui teknologi-teknologi di dekat kita dan juga melalui aneka media komunikasi sosial? Mari kita bersama-sama memenuhi dunia maya dengan keselamatan yang nyata. Mari kita pendam dan kubur dalam-dalam aneka konten Hoax dengan pewartaan cinta kasih dan kebenaran. Mari kita bersama-sama wujudkan era digital yang manusiawi dan bernuansa positif. Mari penuhi dunia maya dengan cinta kasih dan mengkonkritkan itu dalam dunia nyata.
Fr. Henrikus Prasojo, OMI