HR Santa Maria Imakulata
Perayaan yang Menggembirakan
Perayaan yang Menggembirakan
8 Desember
merupakan hari yang istimewa bagi Keluarga Besar Oblat Maria Imakulata, sebab
pada hari tersebut Gereja Universal merayakan Hari Raya Santa Maria Imakulata
yang adalah pelindung Kongregasi OMI.
Sekilas
Dogma Maria Immakulata
Praksis
penghormatan kepada Maria Imakulata sudah berkembang dalam tubuh Gereja jauh
sebelum Dogma Maria Imakulata definitif diserukan bagi Gereja, bahkan
Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI) berdiri lebih dahulu daripada Dogma
tersebut. Doktrin tentang kesucian Maria yang sejak lahir tidak bernoda
dikembangkan oleh para Bapa Gereja Kuno pada abad Keempat. Sebutlah diantaranya
Santo Ephrem, Santo Ambrosius dan Santo Agustinus, yang masing-masing memiliki
pemikiran teologis bahwa Maria adalah suci dan tak bernoda.[1]
Seringkali Doktrin
ini mendapat serangan balik karena Kitab Suci tidak menyebutkan secara
eksplisit bahwa Maria dikandung tidak bernoda. Dasar alkitabiah yang dapat
menjelaskan keutamaan Maria ini bisa kita lihat dalam Injil Lukas 1:28 yaitu
ungkapan malaikat Gabriel kepada Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai,
Tuhan Menyertai Engkau.”
Bila melihat teks
asli dari Injil Lukas Bahasa Yunani, frasa tersebut berbunyi κεχαριτωμενη (kecharitomene) yang berarti “yang
diberkati”. Dalam terjemahan Latin (Vulgata) frasa tersebut diterjemahkan
“gratia plena” yang berarti “penuh rahmat”. Frasa ini secara inplisit memberi
kesaksian tentang keunggulan Maria yang diakui oleh Malaikat Gabriel yaitu
“diberkati, penuh rahmat, atau dikaruniai”. Dari teks ini, mau ditekankan peranan Allah
yang menguduskan Maria dan secara khusus memilihnya untuk mengandung,
melahirkan dan merawat Sang Juruselamat.
Dengan berpegang
pada teks ini, banyak teolog yang mengungkapkan bahwa Maria memiliki segala
rahmat yang diberikan Allah. Dari pemikiran bahwa Maria menerima rahmat penuh
dari Allah, para teolog menarik bermacam-macam pemikiran misal bahwa Maria
tidak berdosa, tidak membawa dosa asal, dikandung tanpa noda.[2]
Doktrin ini terus
berkembang dengan pro dan kontranya melalui zaman ke zaman hingga puncaknya
ketika berkembang gerakan doa yang berdevosi kepada Bunda Maria Imakulata
dengan rumusan” O Maria yang dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang memohon
pertolonganmu.”[3]
Barulah melalui Bulla Ineffabilis Deus pada 8 Desember 1854 yang dikeluarkan oleh Paus
Pius IX, Gereja menghormati Maria secara definitif sebagai pribadi “Yang
Terberkati” – “Yang Penuh Rahmat” – Yang suci dan Tak bernoda dan menjadikan
Maria Imakulata sebagai salah satu Dogma dalam Gereja Katolik. Konsili Vatikan
II pun menegaskan keutamaan yang dimiliki Maria ini. Dalam Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium dikatakan, “Maria yang
menerima Yesus dalam rahimnya adalah suci seutuhnya dan tidak tercemar dosa
mana pun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh
Kudus.” (LG 56).
Maria
Imakulata Bagi Kongregasi OMI
Santo Eugenius de Mazenod-pendiri OMI, memiliki devosi
yang kuat kepada Santa Perawan Maria sejak masa mudanya. Di masa-masa awal
kongregasi OMI hadir, Santo Eugenius de Mazenod membiasakan komunitas untuk
saling memberi salam dengan mengatakan “Terpujilah Yesus Kristus, dan Maria
Imakulata”. Salam ini juga pernah digunakannya ketika mendampingi asosiasi kaum
muda di Aix, juga dalam misi parokinya.[4]
Dalam Konstitusi
dan Aturan Kongregasi OMI No.10 dikatakan, “Bunda Maria Tak Bernoda adalah
pelindung Kongregasi.....Kita akan memandang Maria sebagai ibu kita, Dalam
kedekatan yang mendalam dengan Maria, Bunda Belaskasih, kita menghayati
penderitaan dan kegembiraan sebagai misionaris. Dalam Konstitusi dan Aturan ini
terlihat peranan dan kedudukan Maria dalam Kongregasi OMI serta bagaimana
seorang Oblat bisa meneladan hidup iman Maria.”[5]
Perlu diingat
kendati menyandang nama Maria, spiritualitas yang paling utama dalam Kongregasi
OMI adalah mewartakan Kristus yang tersalib. Maria Imakulata berperan sebagai
pelindung karya misi dan hidup bakti OMI. Maria menjadi model persembahan diri
Oblat, sebagaimana Maria mempersembahkan dirinya sendiri sebagai hamba Allah
yang rendah hati.
Berkat kesucian
yang diterimanya dari Allah, Maria menghadirkan Yesus Sang Allah Putera bagi
dunia. Para Oblat yang menyandang nama Maria dengan penuh cinta dan rasa bangga
juga menerima perutusan yang sama, yaitu untuk menerima rahmat kesucian Allah
lewat pengudusan diri dan menjalankan karya misioner mewartakan Kabar Sukacita
Yesus bagi mereka yang tidak terlayani.
Sebuah
Perayaan yang Menggembirakan
Merayakan Hari Raya Santa Maria Imakulata pada tanggal 8
Desember adalah sebuah momen untuk meneguhkan iman kita sebagai seorang
beriman. Merayakan momen ini menegaskan kesadaran betapa besarnya peran Allah
bagi keselamatan manusia. Allah pertama-tama memilih orang yang dikehendaki,
menguduskannya, dan menjadikannya alat bagi Allah untuk membawa keselamatan dan
semua itu nampak dalam diri Maria Imakulata yang dirayakan pada hari ini.
Perayaan ini juga menjadi sebuah perayaan yang menggembirakan bukan karena
semata-mata dirayakan dengan liturgi meriah, pesta besar ataupun hiruk-pikuknya,
tetapi terutama karena dalam perayaan ini kita diingatkan siapa jati diri kita
yang sejati.
Melalui perayaan ini, kita semua diajak untuk mengingat
kembali siapa jati diri kita yang sesungguhnya. Kita adalah para Oblat-Nya
(baik religius maupun awam), dipilih dari tengah dunia, dikuduskan dengan
berkat dan rahmat-Nya, serta diutus-Nya mewartakan kabar sukacita melalui
perkataan maupun perbuatan kita. Kita diundang untuk melaksanakan karya
perutusan yang dipercayakan kepada kita dengan penuh sukacita dan tanggung
jawab, juga dengan perlindungan Bunda Maria Imakulata kita akan menerima
kekuatan untuk mengatasi segala kesulitan yang kita hadapi.
Bunda Maria Imakulata melindungi setiap karya hidup bakti
kita, baik bagi para Imam yang menguduskan dunia lewat pelayanan sakramen, bagi
para bruder dan suster yang membawa kesaksian hidup religius yang sejati serta
melayani dunia dengan keahlian di bidangnya masing-masing, juga melindungi
segenap Oblat Awam yang berjuang di tengah dunia memberi kesaksian hidup seorang
Kristiani sejati yang penuh cinta kasih. Dengan peran dan panggilan yang kita
miliki masing-masing, kita semua diajak untuk seperti Bunda Maria, menghadirkan
Yesus bagi sesama.
Sungguh momentum iman yang luar biasa. Semoga kita semua
bisa menjadi berkat dan sukacita bagi setiap mahkluk yang kita jumpai.
Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata.
“Semoga kita mengerti dan menyadari siapa
kita ini sesungguhnya! Saya berharap Tuhan akan menganugerahkan rahmat ini
dengan bantuan dan perlindungan Bunda kita yang kudus, Maria Imakulata.”
(Santo Eugenius de Mazenod).
-Skolastik
Henrikus Prasojo, OMI-
Referensi:
O’Carrol, Michael
1987 Theotokos: A Theological Encyclopedia of the
Blessed Virgin Mary. Quezon
City: Claretian
Publications.
Eddy Kristiyanto OFM, A
1987 Maria Dalam Gereja. Yogyakarta: Kanisius.
Lembaga Alkitab Indonesia
1989 Kitab Suci Perjanjian Baru Yunani-Indonesia.
Jakarta: LAI.
Ciardi OMI, Fabio dkk
2000 Dictionary of Oblate Values. Rome.
Asodo OMI, Henricus
Draft Terjemahan Prancis-Indonesia Konstitusi dan Aturan
Kongregasi OMI.
Hardawiryana SJ, R.
(Penerjemah)
2013 Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta:
Obor.
[1] Michael O’Carrol. Theotokos: A
Theological Encyclopedia of the Blessed Virgin Mary. (Quezon City: Claretian
Publications, 1987). Hlm. 180
[2] A. Eddy Kristiyanto OFM. Maria
Dalam Gereja. (Yogyakarta: Kanisius, 1987). Hlm. 39
[3] Michael O’Carrol. Hlm.182
[4] Fabio Ciardi OMI, dkk. Dictionary
of Oblate Values. (Rome, 2000). Hlm. 535
[5] Henricus Asodo OMI (penerjemah). Draft terjemahan Prancis-Indonesia Konstitusi dan Aturan Kongregasi OMI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar