Hidup Adalah sebuah Peziarahan, dan kita para peziarah selalu mencari keutamaan sejati dalam menjalani hidup yang hanya sekali ini. I'm someone who try to follow God and never stop before He says "enough" . Ecce Ancilla Domini Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum (Lucas 1:38)
Senin, 15 Desember 2014
Minggu, 28 September 2014
Malam Mingguan OP-OMI
Kisah Novis OMI dan OP bermalam
minggu bersama
Sabtu, 27 September 2014 kami para
novis OMI diajak untuk pergi malam
mingguan bersama suster-suster novis OP di jalan Baciro, Yogyakarta oleh
Romo Ant.Sussanto, OMI. Ajakan yang aneh, tapi ternyata menyenangkan. Sejak awal
aku bertanya-tanya, “Apa jadinya Biarawan-biarawati malem mingguan bersama.”
Acara diadakan di Novisiat
suster-suster OP di jalan Baciro, Yogyakarta, lebih tepatnya di samping gereja
paroki Baciro.
Kami (Komunitas Novisiat OMI)
berangkat dari Blotan menggunakan mobil. Karena tidak cukup untuk semua, Romo
Santo, OMI dan Frater Alvin pergi menggunakan motor. Kami semua berangkat
bersama pukul 15.30 WIB.
Setibanya disana kami langsung
disambut oleh suara-suara Sopran, Sopranino dan Alto para suster-suster. Beda sekali
dengan suara kami yang rata-rata berwilayah Bass.
Kegiatan kami yang pertama adalah,
bersama-sama belajar membuat rosario sendiri. Bahan dan perlengkapan disediakan
oleh Komunitas Novisiat OMI, dan tutorial diberikan oleh para suster OP. Seru
sekali bisa punya rosario usaha dan buatan sendiri. Aku ingat seoarang temanku
di SWB pernah melakukan ini sendiri (Fr.Bernard, Pr) hahaha
Pukul 18.00 WIB kami mengadakan
perayaan Ekaristi bersama. Ekaristi dipimpin oleh Rm.Santo,OMI dengan
konselebran Rm. Sattu, OMI. Petugas koor dari Novisiat OMI ditambah dua orang
suster novis OP, diiringi oleh Grup Keroncong Novisiat, membawakan lagu-lagu
nuansa Keroncong dari Madah Bhakti.
Seusai perayaan Ekaristi kami makan
malam bersama di ruang makan. Saat itu tidak ada kecanggungan sama sekali. Kami
saling berbagi cerita sambil makan dengan suasana yang sangat hangat. Keakraban
cepat sekali terbangun diantara kami. Memang sebelumnya kami sudah saling kenal
saat Kursus Gabungan Novis (KGN) baik bagi Novis I maupun Novis II.
Yang paling ditunggu-tunggu adalah
acara rekreasi bersama. Masing-masing Novis OMI sudah menyiapkan cerita lucu
dan beberapa permainan yang biasa dimainkan bersama. Keceriaan saat itu sungguh
sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tidak mau kalah, para suster pun ada yang
membawakan cerita lucu, ada juga menampilkan tarian daerah. Setiap ada yang
tampil, semua tampil dengan cukup percaya diri dan tidak tampak adanya kecanggungan
di antara kami semua baik Novis maupun para Formator
Sungguh pengalaman yang sangat
menyenangkan. Terima kasih kepada Rm.Santo,OMI dan Sr.Fidelia,OP yang telah
memberikan pengalaman macam ini kepada kami para Novis. Sungguh pertemuan ini
telah memberikan peneguhan baru bagiku untuk menatap masa depanku di jalan
panggilan ini. Aku mengira malam mingguan
hanya milik bagi mereka yang sudah punya kekasih, tapi ternyata sebagai
biarawan-biarawati kami bisa juga merasakan pengalaman malam mingguan dan mengisinya dengan hal positif yang meneguhkan
panggilan dan juga menambah keakraban diantara kami.
Semoga berikutnya ada lagi acara
seperti ini lagi ya Romo...hehhehehe.....
Yogyakarta,
28 September 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo
Rabu, 17 September 2014
Another Music Experiences......
Sejak tanggal 22 Agustus 2014 kami komunitas Novisiat dan Skolastikat OMI mendapatkan sebuah kesempatan
langka untuk mengembangkan musikalitas kami. Program ini diadakan atas
kerjasama Rektor Seminari Tinggi OMI yaitu, Romo Antonius Widiatmoko,OMI dengan
seorang dosen jurusan Seni Musik dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta,
Bapak Eddie Susilo.
Selain dilatih
oleh seorang dosen ISI, kami juga dibimbing oleh tiga orang Mahasiswa ISI. Yang
pertama adalah mas Dibyo spesialisasi Contra Bass, yang kedua mas Yonathan
spesialisasi Drum set dan perkusi, lalu yang terakhir mas Abdi spesialisasi
Piano Classic.
Program
pelatihan yang kami jalani adalah progam grup Keroncong dan grup Band. Latar
belakang diadakannya kerja sama ini adalah karena di Seminari Tinggi OMI
terdapat alat-alat yang memadai namun pemakaiannya belum maksimal, sehingga
Romo Widi ingin memaksimalkan fasilitas yang sudah tersedia ini.
Setelah satu
bulan menjalani latihan rutin seminggu 3 kali (Selasa, Kamis, Jumat) output
dari kerjasama ini adalah performance dari kami. Penampilan ini diadakan di
Seminari Tinggi OMI pada tanggal 15 September 2014.
Penonton yang
hadir terdiri dari Bapak
Lurah Condongcatur, 2 dosen ISI, beberapa mahasiswa ISI, 3 Anggota HMKK
(Himpunan Mahasiswa/i Katolik Kalimantan)
Dalam
penampilan, grup Keroncong menampilkan dua buah lagu yaitu Bengawan Solo dan
Cucak Rowo. Grub Band menampilkan tiga buah lagu yaitu Kau Auraku – Ada Band,
Marry You – Bruno Mars, dan Yogyakarta – KLA Project. Lalu ending dari
penampilan ini adalah membawakan lagu tema “Desa Condongcatur” gubahan bapak
Eddie Susilo sendiri.
Yogyakarta, 16 September 2014
The
Pilgrim
Henrikus
Prasojo
Selasa, 16 September 2014
KGN PH 2014
Kursus
Gabungan Novis : Pengolahan Hidup Religius
8-13
Sept 2014
Pada tanggal 8-13 September 2014 diaadakan pekan pengolahan hidup(PH) bagi para Novis yang ada
di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Kursus ini rutin setiap tahun bagi para Novis
I maupun postulant dari berbagai Kongregasi yang ada di Yogyakarta dan
sekitarnya. Biasanya acara PH ini diadakan di Novisiat Susteran CB di jalan
Gejayan, tapi karena beberapa alasan, tahun ini pekan PH dilaksanakan di
Seminari Tinggi OMI di jalan Condongcatur.
Peserta KGN tahun ini berjumlah 33 orang. Terdiri atas 3
Frater 7 Bruder dan 23 Suster. Dari OMI 3 Frater dan 1 Bruder, lalu ada 2
Bruder FIC, 3 Bruder MSC, 1 orang Bruder CSA, 2 Suster OP, 8 Suster ADM, 6
Suster SFD, 4 Suster PBHK, 2 Suster PPYK dan 1 Suster AK.
Selama satu minggu di bawah bimbingan Rm.Sulis, MSF kami
menggali pengalaman-pengalaman kami guna mengenal diri kami secara lebih
mendalam. Lebih jauh, sasarannya adalah semakin menyadari serta mensyukuri
segala karya Allah yang hadir dalam pengalaman hidup kami dan nantinya dapat
semakin mengenal sosok Allah secara personal dan mendalam.
Dinamika yang kami lalui sangat menarik. Terkesan santai
tetapi ternyata tidak juga. Pendekatan yang dilakukan oleh Romo Sulis adalah
menggambar, merenung, menulis dan sharing. Cara kami mengekspresikan sesuatu
lewat gambar adalah cerminan diri kita yang sesungguhnya. Penuh keaslian dan
kesannya tidak dibuat-buat. Dari gambar yang kami buat, kami diminta untuk
merenungkannya sejauh mana gambar yang kami buat mencerminkan kepribadian kami
masing-masing, lalu menuliskannya sebagai refleksi. Setelah direfleksikan,
hasil refleksi kami sharingkan dalam kelompok kecil.
Sungguh pengalaman yang menyenangkan bagiku. Yang pertama
karena aku dapat mengolah diriku untuk semakin mengenal kebaikan-kebaikan Allah
yang hadir dalam diriku dan tentu ini penting bagi perjalanan panggilanku. Yang
kedua karena aku bisa berjumpa dengan para teman
seperjalanan yaitu para Novis dari Kongregasi lain.
Ada sebuah
fakta yang cukup menggelitik bahwa dari 33 peserta KGN hanya 3 orang yang
berasal dari kota besar. 2 dari Jakarta yaitu saya dan Sr.Martha, PBHK, dan 1
orang dari Yogyakarta Sr.Ludgardis, OP. 30 peserta lainnya berasal dari
berbagai daerah seperti Sumatera, Kalimantan, NTT, NTB, dan Timur Leste. Peradaban
yang maju ibarat semak duri yang menghimpit sehingga benih yang ditabur tidak
dapat tumbuh dengan baik di tanah tersebut. Haha
Aku sendiri
akhirnya menyadari bahwa pergulatanku menjadi seorang yang berusaha menjawab panggilan
Tuhan sangatlah rumit. Bagiku sendiri atmosfir Jakarta memang kurang kondusif
untuk menjalani panggilan.
Lewat
berbagai proses, aku menemukan diriku yang lain yang terbentuk secara otomatis
karena pengaruh lingkungan khususnya di masyarakat Jakarta. Yang lebih
mengejutkan bagiku, diriku yang lain ini mendominasi alam bawah sadarku
sehingga ada hal-hal yang kurang sesuai dengan spiritualitas hidup religius
dalam diriku tetapi tidak pernah kusadari sampai di umur ke-19 ini.
Diriku yang
lain cenderung menunjukan tendensi diri yang Egosentris, aku sebagai pusat.
Padahal yang diharapkan dari para religius adalah Teosentris, Allah sebagai
pusat. Dengan merenungkan pengalaman-pengalaman masa lalu itulah aku menemukan
diriku yang lain.
Yah,
dinamika hidup cepat dan tuntutan untuk kompetitif
telah membentuk diriku secara dominan di alam bawah sadarku. Walaupun aku punya
benih panggilan, pada akhirnya yang dominant adalah diriku sendiri, tapi kurang
menyadari dan merasakan bahwa Allah berkarya dalam diriku setiap hari.
Segala
pencapaian yang telah kulakukan memang membuatku bisa berlari dan menunjukan
kualitas pribadi sebagai anak Allah yang mengembangkan talentanya. Tetapi
ternyata di sana terselubung sebuah penyimpangan jalan hidup dari spiritualitas
para religius di mana Allah tetap harus menjadi pusat hidup kami. Allah sebagai
penyelenggara kehidupan. Ia memanggil
dan memelihara. Ia sang Formator
utama yang membentuk diri kami sehingga akhirnya nanti kami pantas menjadi
seorang imam/biarawan/biarawati yang seturut dengan perutusan kami
masing-masing di dunia ini.
Secara umum
aku berharap bisa menghidupi dan menghayati kutipan ini dalam keseharianku,
“Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus
yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:20)
Yogyakarta,
14 September 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo
That's Day.....
“Aku mencari kebahagiaan di luar Allah,
dan setelah sekian lama
yang kudapatkan hanyalah penderitaan.”
(St.
Eugenius de Mazenod)
Hari ini aku benar-benar mengalami
sebuah sentuhan dari Allah. Aku merasa seakan-akan mengalami apa yang dialami
oleh St.Eugenius de Mazenod.
Sudah satu bulan lebih aku tinggal di Novisiat
OMI, tapi tidak seluruh jiwaku hadir di tempat ini. segala emosi dan ekspresi
memang terlihat meyakinkan, tetapi ternyata tetap saja jiwaku ini tidak utuh.
Selalu ada bagian yang kosong. Selama satu bulan ini masih saja aku mencari
kesenangan, dan yang kudapat hanyalah kesia-siaan.
Berkali-kali jiwaku ini melayang ke luar Novisiat, dan yang kudapat hanyalah kesia-siaan yang berbuah galau.
Berawal dari kebodohanku dan teman
seangkatanku di Seminari Wacana Bhakti Carol si gendut dan sulit untuk jadi
kurus (sekarang Frater di KAJ). Dia meledekku
dan bodohnya aku terpancing ledekan itu. Ledekannya memang tidak terlalu
frontal. Yah, ledek-ledekan tentang
topik klasik khas remaja. Bodohnya ini kami lakukan di sebuah situs Media
Social yaitu Twitter.
Alhasil, yang bersangkutan pun melihat
juga yang kami perdebatkan, dan tentu ia memberi respon, bahkan sebuah respon
yang sangat jauh di luar perkiraanku. Gila, aku sendiri baru ingat bahwa ini
adalah sebuah lapak umum. Kok bisa-bisanya
aku terpancing temanku si gendut ini.
Seketika muncul perasaan tidak enak
dengan yang bersangkutan. Aku jadi berpikir bahwa mungkin aku adalah orang
jahat karena bersikap terlalu baik. Yah, memang aneh, tetapi memang terkadang
perbuatan baik pun bisa berakibat buruk.
Perasaan tidak enak ini terbawa terus selama perjalanan menuju Novisiat
OMI di Jogja, bahkan sampai di Novisiat pun aku masih terganggu dengan perasaan
ini.
Seperti biasa, semua kegundahan pasti
akan kubawa dalam doa. Tapi situasi yang ekstrim ini membuatku tidak bisa
berpikir jernih dalam doa. Dalam doa pribadi dan setiap kesempatan merenung aku
selalu mengeluh kepada Tuhan, “Mengapa Kau biarkan aku jatuh cinta?”
Keluhan itu selalu keluar baik dalam doa
pribadi, meditasi ataupun renungan malam, baik pagi-siang-malam. Yah memang
suasana hatiku sangat amburadul.
Namun, hari ini Tuhan memberikan
penerangan kepadaku. Mungkin Ia sudah tidak tega melihatku menderita akibat
perbuatanku sendiri. apa yang Ia katakan? Sungguh jawaban yang sangat di luar
perkiraanku dan sungguh bukan jawaban yang bisa kuduga-duga, “Bukan orangnya
yang harus kau cintai. Tetapi Aku menghendaki supaya kamu mencintai Santo
yang menjadi pelindungnya, nama baptisnya ! lewat dia lah Kutunjukan kepadamu hambaKu yang kiranya kau teladani.
Sesungguhnya Aku telah menunjukan jalanKu kepadamu lewat pengalaman jatuh cinta
itu !”
Gila, lagi-lagi gila ! keras sekali
jawaban Tuhan. Tetapi memang sangat tidak kuduga-duga akan seperti ini Ia
menjawab aku. Ini menjadi sebuah pengalaman rohani paling istimewa seuumur
hidupku. Sebuah pengalaman rohani yang tidak akan terlupa.
Pengalaman rohani ini kudapatkan siang hari
saat berjalan-jalan di kebun Novisiat OMI seusai makan siang. Dan saat itu
jugalah aku tersadar bahwa sekali Tuhan memanggil, Tuhan tak akan berpaling. Sungguh
kurasakan, belas kasih Tuhan tidak terkira sepanjang hidupku. Aku tidak lagi
merasa seperti seonggok daging yang
bergerak tanpa kesadaran, tetapi menjadi hidup kembali karena Roh-Nya. Aku
bersyukur kepadaMu ya Tuhan dan amat berterima kasih atas pengalaman rohani
yang boleh kudapatkan ini. Kau begitu pengasih walau sering aku tidak peka
dengan kasihMu itu. Ini aku Tuhan, bentuklah aku menjadi bejana seperti yang
Kau inginkan.
“1000 kali lebih
senangnya, bahwa Bapa yang baik,
meskipun
aku penuh dengan ketidaklayakan,
Ia menghujani aku dengan kekayaan belas kasihNya.”
(St.Eugenius
de Mazenod)
Pengalaman rohani ini
langsung kucatat dalam secarik kertas yang ada di kantongku, dan pengolahannya
yang lebih mendalam kutulis pada malam hari sebelum istirahat malam. Sesudah
hari ini, aku mencoba mengekspresikan pengalaman rohaniku dengan membuat sebuah
poster promosi, walau aku tidak ahli dalam hal ini, tapi aku mencoba membuat
dengan baik menggunakan program Corel draw (materi kelas XII IPS 2013). Ada
rekomendasi, bahwa lebih baik menggunakan photoshop, tapi sayang saya belum
pernah belajar menggunakan Photoshop.
Yogyakarta, 13 Agustus 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo
“Why you choose to love someone, if you can love
everyone?
Why you choose to love someone, but not consider
that God Have Loved you first?
I can’t marry, but my life is filled with countless
love.”
(Henrikus Prasojo)
From them I’ve found God’s Love. They
countless love are presenting God’s love and give many colour in my life…… xo
1.
Minggu, 14 September 2014
Karena Hidup Tidak Selalu Datar
Pengalaman
Mendaki Puncak Gunung Lawu
Naik-naik
ke Puncak Gunung, tinggi-tinggi sekali. 2x
Kiri
kanan kulihat saja banyak pohon cemara. 2x
Lagu anak-anak di atas
terdengar sangat riang, disajikan dengan nada yang ringan dan asyik
dilantunkan. Namun lagu itu tidak berlaku bagiku ketika mendengar bahwa kami
para Novis akan ikut bersama Frater Skolastikat mendaki Gunung Lawu.
Membayangkan tingginya saja sudah membuat badanku pegal, apalagi harus mendaki.
Bah, begitulah ekspresi spontan yang keluar dalam diriku.
Aku sadar betul
bahwa aku bukanlah orang yang rajin olahraga dan punya fisik yang kuat, maka
aku cenderung untuk menghindar dari kegiatan yang ekstrim-ekstrim seperti itu.
Tapi, berhubung pilihan keduanya adalah menghabiskan waktu berduaan saja dengan
Magister Novis di Novisiat, saya menguatkan hati dan fisik saya untuk ikut
acara mendaki gunung ini. hehehe
Kami mempersiapkan
fisik maupun logistic selama akhir bulan Juli menjelang keberangkatan. Mulai “beronthel” ria sepanjang jalan Kaliurang yang menanjak
tidak karuan hingga membeli
perlengkapan untuk mendaki gunung. Memang persiapan adalah senjata perang yang
paling penting. Bodoh jika orang berperang tanpa membawa senjata.
Kami (Novis dan
Skolastik) berangkat ditemani Romo.Ant.Widiatmoko, OMI selaku Rektor Seminari
Tinggi OMI, yang juga menyelenggarakan kegiatan mendaki gunung ini. Dari Wisma
de Mazenod (Seminari Tinggi OMI) kami memulai perjalanan .
Perjalanan cukup
jauh. Dari Jogja kami pergi ke daerah Wonogiri tepatnya daerah Tawangmangu
yaitu tempat awal pendakian gunung Lawu.
Rasa kantuk menyerangku dalam perjalanan dan membuatku bahagia menikmati perjalanan.
Sebelum acara
pendakian aku menaruh rasa percaya penuh pada perkataan Magisterku itu tanpa
memastikan sendiri kondisi aktualnya. Aku sempat merasa dikerjai oleh Magisterku yang mengatakan bahwa, “Puncak Lawu paling
hanya 2500an Mdpl, suhu sekitar 15o
-18o Celcius. Pake sepatu sandal aja. Malah biasanya pada pake sendal jepit .”
Akhirnya, tidak
seperti frater2 lain yang menggunakan sepatu, hanya aku dan Aan yang
menggunakan sandal gunung. Padahal
puncak Lawu yang akan kami daki memiliki ketinggian 3265 Mdpl, dengan suhu
rata-rata saat siang hari 15 o - 5o
Celcius dan 4o –
0o
Celcius pada malam
hari. Setidaknya itu yang ku rasakan dan memang tertera pada informasi dari
Internet.
Memang bagi yang
berpengalaman, memakai sandal jepit untuk naik gunung adalah rekomendasi yang baik,
tapi ternyata tidak bagiku yang benar-benar pemula dalam mendaki gunung. Selama
perjalanan telapak kakiku ini berulang
kali tertimpa batu yang meluncur jatuh, ataupun beberapa kali tersangkut
ranting kayu yang berjatuhan. Tidak jarang juga kaki ini terinjak frater lain
yang ikut mendaki mulai dari yang tidak sengaja hingga yang disengaja, seperti
yang dilakukan Frater Langet, OMI.
Jujur, bagiku yang
lahir dan besar di daerah perkotaan, acara mendaki gunung ini adalah sebuah
pekerjaan berat yang butuh perjuangan. Dari pos awal pendakian hingga sampai
pos 3 aku masih punya semangat yang membara. Nafasku teratur, jalanku tegap,
langkahku mantap dengan sandal gunungku.
Namun apa daya, sampai di pos 3, jaket yang
kugunakan mulai terasa setipis benang. Kugunakan jaket kedua yang kubawa dan
tidak memberi efek sedikitpun. Rasa dingin yang belum pernah kurasakan seumur
hidupku (di Jakarta suhu terendah adalah 16o Celcius,
itupun karena pengaruh AC). Mataku melotot ketika Frater Arki, OMI melihat termometer
yang dibawa Frater Denny, OMI menunjukkan angka 0o
Celcius. Wleehh, beku sekali rasanya. Akhirnya dalam sedikit keputusasaan kami
berhasil menghangatkan diri kami dengan api unggun yang telah kami buat.
Masih ada 2 pos lagi
untuk sampai ke Puncak. Aku pun menguatkan tekad lagi agar bisa sampai ke
puncak Lawu. Biar bagaimanapun, aku ingin sekali mencapai puncak Lawu dan
menikmati pemandangan yang ada di atas sana sebagai suatu pencapaian hidupku.
Namun apa boleh dikata, ada pepatah yang berkata “Nafsu besar, tenaga kurang” .
Itulah yang terjadi pada diriku. Semangatku memang membakar, tetapi ternyata
nafasku juga terbakar. Nafasku mulai terengah-engah ketika beranjak dari pos 3
menuju ke pos 4.
Aku yang tadinya
mendaki di barisan depan, akhirnya malah ada di paling belakang bersama Frater
Novis Andy (kami akrab memanggil Mas Andy). Inilah penggenapan Injil yang
terjadi padaku: “Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (Mat 20 :16). Dan
penggenapan Injil yang kedua adalah karena kami akhirnya berjalan berduaan saja
dari pertengahan pos 3 menuju pos 4, seperti 2 murid yang berjalan menuju Emaus
(Luk 24:13-35). Kami berdua tertinggal jauh dari Frater-frater lain yang
fisiknya jauh lebih mantap daripada fisik kami.
Di pos 4 kami hampir
menyerah dan tidak ingin melanjutkan perjalanan. Namun ada seekor burung indah
yang baru pertama kali kulihat yaitu burung Jalak Bali, menghampiri kami berdua
dan seakan-akan menunjukan jalan kepada kami. Kami berdua yang penasaran,
akhirnya berjalan beriringan dengan burung Jalak tersebut yang hinggap kian
kemari, berpindah-pindah pohon yang sejalan dengan jalur kami. Ternyata burung
itu menuntun kami untuk bertemu dengan pendaki lain yaitu Frater Novis Alvin(
akrab kami panggil Alvin). Kami mendapatkan teman seperjalanan.
Dengan semangat
membara (tapi raga tertatih-tatih) kami bertiga berhasil melewati pos 5 dan hampir
mencapai puncak. Kagetlah kami ketika kami naik ke puncak, para frater yang
tadi sudah sampai terlebih dahulu hendak turun. Untunglah kami diberi
kesempatan untuk tetap menikmati puncak gunung Lawu. Indah benar pemandangan di
atas sana.
Aku menyesal telah mengeluh dan khawatir
terlalu banyak sebelum berangkat mendaki gunung tanpa membayangkan dulu
kenikmatan yang kini bisa kurasakan. Rasanya tidak salah lagu dari Puji Syukur
no.707 kulantunkan dalam hati, “Betapa tidak kita bersyukur, bertanah air kaya
dan subur. Lautnya luas gunungnya megah. Menghijau Padang bukit dan lembah.”
Keindahan dalam lagu itu terealisasi dengan jelas lewat mataku sendiri di
puncak Lawu. Betapa puas hati kami bertiga dapat sampai ke puncak Gunung Lawu
ini.
Ternyata perjuangan
belum berakhir. Tidak kami kira bahwa turun dari gunung membutuhkan perjuangan
juga. Rasa lelah mendaki terakumulasi ketika harus menahan berat badan untuk
menuruni puncak. Inilah yang kerap terjadi pada kebanyakan orang. Terlalu cepat
menganggap enteng suatu perkara. Terlihat mudah namun ternyata sulit juga. Kita
kerap mempersiapkan keberangkatan saja seakan-akan setelah sampai di tujuan
urusan sudah selesai, padahal masih ada perjalanan pulang yang perlu kita
persiapkan pula.
Itulah pengalamanku
mendaki dan menuruni gunung Lawu. Tentu aku tidak pulang hanya membawa badan
pegal dan encok saja. Aku punya pengalaman berharga ini, dan kujadikan sebagai
pembelajaran bagi hidupku, yang selama ini nyaman dilindungi oleh atmosfir
Metropolitan kota Jakarta.
Dari pengalaman ini aku belajar untuk berjuang
keluar dari zona nyamanku dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Inilah hidup,
inilah kehidupan kita. Hidup kita tidak selalu datar . Perjalanan dan peziarahan hidup kita adalah perjalanan
hidup yang dinamis, memiliki kecenderungan untuk naik dan turun.
Keberhasilan memang
ada di puncak gunung, tetapi puncak gunung itu bukanlah milik kita sendiri. Ada
orang lain yang juga berusaha mendaki dan mencapai puncak gunung tersebut,
sehingga kita pun mau tidak mau harus turun dari puncak itu.
Menurut Romo Widi, OMI, banyak manusia siap untuk kesuksesan, tetapi tidak siap menghadapi masa turun dari kesuksesannya. Banyak orang mengalami Post Power Syndrome dan cenderung mudah marah, sentimental dan mudah tersinggung di hari tuanya. Kerap kita merasa nyaman-nyaman saja dengan kedataran kita ini. Kita lupa bahwa masih ada sesuatu yang bisa kita perjuangkan, yang ada di puncak sana. Begitu pula ketika kita sudah menikmati puncak, kitapun harus siap untuk turun dari puncak gunung tersebut. Sekali lagi, karena hidup kita tidak selalu datar .
Yogyakarta,
7 Agustus 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo
Imogiri
Libur lebaran ini, kami para Novis
diperbolehkan untuk berlibur dan mengunjungi makam suci para sultan di Imogiri.
Perjalanan cukup jauh, 2 jam perjalanan dari Novisiat OMI dan perjalanan itu
kami tempuh menggunakan kendaraan
kebangsaan para biarawan/wati di Jogja yaitu Onthel.
Luar
biasa lelahnya, kakiku terasa pegal. Aku memang belum terbiasa dengan kendaraan
ini. Jarak yang jauh ditambah dengan udara yang cukup panas membuat perjalanan
terasa sangat melelahkan.
Aku mengira di
Yogyakarta suhu akan dingin sepanjang hari, ternyata saat siang hari panasnya
sama seperti di Jakarta. Hanya saat malam dan pagi hari saja udara menjadi
dingin.
Setelah melalui
perjuangan panjang yang rasanya sama seperti nge-gym seharian, kami sampai di Makam Suci Imogiri. Di sana kami
menikmati suasana rindang dan melihat berbagai macam kebudayaan makam Jawa.
Selain untuk liburan,
alasan lain kami untuk pergi ke Imogiri adalah sebagai persiapan acara mendaki
gunung yang diadakan Agustus mendatang. Maksudnya persiapan adalah kami melatih
fisik kami supaya siap untuk mengikuti acara mendaki gunung.
Kuakui ini perjalanan
yang cukup menyenangkan sekaligus melelahkan. Setidaknya dua tujuan kami
terpenuhi yaitu liburan dan latihan fisik. Terima kasih Tuhan atas hari ini.
Yogyakarta, 28
Juli 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo
Sabtu, 13 September 2014
Welcome Ceremony Mass
13 Juli 2014,
Pada
hari ini diadakan perayaan Ekaristi penerimaan Novis OMI baru per.2014/2015 dan
sekaligus pengikraran kaul pertama Fr.nov Albertus Gelar Jiwa, OMI. Acara ini
dilaksanakan di Kapel Novisiat OMI Beato Joseph Gerard, Blotan, Wedomartani,
Ngemplak, Sleman.
Acara
ini tidak hanya dihadiri seluruh Komunitas Formasi OMI, tetapi dihadiri juga
oleh sahabat-sahabat OMI seperti suster-suster CB dan OP, para umat lingkungan,
karyawan seminari dan kerabat OMI.
Pada
hari inilah kami berempat yaitu Aandrianus(Calon Bruder asal Dankan Silat),
Flavianus Asalau Onlet (Calon Imam asal Tarakan), Hendrianus Wendi (Calon Imam
dari Sepauk), dan saya (Calon Imam asal Jakarta) mengucapkan janji untuk
memberi diri dibentuk dalam program formasi Novisiat OMI tahun pertama selama 8
bulan.
Dengan
pengucapan janji ini, program Novisiat kami resmi dimulai untuk 8 bulan
kedepan. Setelah menjalani masa Novisiat I selama 8 bulan, kami akan penjubahan
dan mulai masuk program Novisiat II (Novisiat Kanonik) selama 15 bulan.
Semoga
Allah selalu menyertai kami dalam perjalanan kami selama-lamanya.
Laudetur Jesus Christus et Maria Immaculata.
(Merupakan Salam yang dipakai antar anggota OMI di
seluruh dunia)
Yogyakarta, 13 Juli 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo
The Arrival
Tanggal
10 Juli 2014 pukul 07.00 WIB, aku menginjakan kaki di Stasiun Lempuyangan
Jogja. Udara pagi Jogja lebih segar ketimbang aku bangun pagi di Kampung Sawah
untuk misa pagi dan menghirup asap orang yang berbondong-bondong mencari
nafkah.
Dari stasiun kami menggunakan taksi untuk menuju ke Novisiat OMI.
Tersesat dan tidak berhasil menemukan Novisiat OMI, kami pun bertanya ke
beberapa orang hingga akhirnya setelah satu setengah jam berputar-putar antara
minomartani dan condongcatur, kami menemukan dusun blotan. Sulit sekali mencari
Novisiat OMI karena memang ada di tengah kampung dan dikelilingi oleh sawah.
Kedatangan kami disambut hangat oleh Magister (Romo Andri Atmaka,
OMI) dan Socius (Romo Antonius Sussanto, OMI). Para frater novis yang lain
sedang mengikuti pelajaran di unit De Mazenod. Angkatanku menunggu di unit
novis I yaitu unit Borzaga.
Orangtuaku pun ikut diajak berkeliling melihat kompleks Novisiat OMI
Beato Joseph Gerard, mulai dari gerbang depan hingga kandang ternak yang ada di
paling belakang. Mereka juga melihat kamarku.
Selesai berkeliling mereka pamit kepada Romo, mereka akan berlibur
sebentars selama 2 hari 1 malam di Jogja. Mereka ingin merefresh pikiran dengan honeymoon
jilid II. Yah, slamat jalan….sampai jumpa suatu saat nanti...doaku selalu
menyertai kalian.
Setelah mereka pulang, aku mengemas bawaanku, kumasukan dalam lemari
kamar dengan sistematis dan rapi. Ternyata dihari pertama ini, kegiatan resmi
belum dimulai. Aku diperbolehkan untuk istirahat untuk melepas lelah. Yah aku
bersyukur mendapat kesempatan istirahat dulu sebab perjalanan dengan kereta api
Ekonomi cukup melelahkan karena kursi penumpang tidak bisa diubah posisinya.
Sore hari ada acara menangkap ikan Nila yang dipelihara sendiri.
ikan-ikan itu ditangkap untuk dijadikan santapan pada hari penerimaan. Hari
penerimaan Novis I per.2014/2015 akan diadakan pada tanggal 13 Juli 2014,
kebetulan sekali bertepatan dengan PF.Santo Henrikus, nama babtisku.
Tetapi karena masih kelelahan, pada sore hari aku terlambat bangun.
Dan ketika aku bangun semua ikan sudah ditangkap dan anggota komunitas nyengir-nyengir kepadaku yang terlihat
puas membaringkan badan selama berjam-jam. Hehehe………
Yogyakarta, 10 Juli 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojoar
The Departure
All
my bags are packed, I'm ready to go, I'm standing here outside your door,
I hate to wake you up to say good-bye.
But the dawn is breaking, it's early morn, the taxi's waiting He's blowing his horn.
Already I'm so lonesome I could die.
So kiss me and smile for me, tell me that you'll wait for me, hold me like you'll never let me go.
'Cause I'm leaving on a jet plane, don't know when I'll be back again. Oh, babe, I hate to go.
I hate to wake you up to say good-bye.
But the dawn is breaking, it's early morn, the taxi's waiting He's blowing his horn.
Already I'm so lonesome I could die.
So kiss me and smile for me, tell me that you'll wait for me, hold me like you'll never let me go.
'Cause I'm leaving on a jet plane, don't know when I'll be back again. Oh, babe, I hate to go.
(John Danver – Leaving on a Jet Plane)
This is it…
Show must go on….
Aku ingat akan pepatah Duc in
Altum, sebuah seruan latin yang berarti bertolaklah
ke tempat yang dalam (Bdk Lukas 5: 4).
Ya, aku akan menuju tempat yang lebih dalam dari sebelumnya. Aku merasa tempat
yang akan kutuju adalah laut dalam yang gelap, yang aku sendiri tidak tahu
persis seperti apa isinya. Yang aku tahu di dalam sana ada harta karun yang aku cari dan banyak sekali yang telah aku
tinggalkan untuk mencari harta karun tersebut.
Aku adalah alumnus Seminari
Menengah Wacana Bhakti yang baru saja lulus. Langkah selanjutnya aku melamar ke
Kongregasi Oblat Maria Imakulata(OMI) dan mereka menerimaku sebagai Novis
mereka. Kongregasi memintaku untuk sampai di Novisiat di Yogyakarta tanggal 10
Juli 2014.
9 Juli 2014, pukul 22.30
begitulah tercetak dalam tiket kereta yang sudah kubeli untuk berangkat ke
Jogja. Aku berangkat bersama kedua orangtuaku, walaupun tidak kuminta. Saking
inginnya mereka mengantarku ke Yogya, mereka membeli tiket kereta dengan jadwal
yang sama secara diam-diam.
Aku baru tahu mereka ikut di kereta yang sama adalah dua hari
sebelum keberangkatan, saat aku mengantar bapak ke Stasiun Pasar Senen. Aku
mengira bapak akan beli tiket untuk berlibur ke Kediri (kampung halaman kami),
ternyata tidak.
Alhasil kami berangkat ke Yogyakarta dengan kereta yang sama namun
gerbong yang berbeda. Aku di gerbong 1 dan orangtuaku di gerbong 3. Mereka sempat menawariku untuk pindah ke
gerbong 3 juga karena kosong, tetapi aku menolak sebab sebenarnya aku ingin
merasakan sensasi naik kereta api sendirian.
Aneh memang rasanya satu keluarga terpisah dalam satu kereta yang
sama. Tapi ini adalah komitmenku untuk belajar rela dan lepas. Kunikmati
perjalanan di Kereta Ekonomi Progo bersama penumpang-penumpang asing yang
ramah.
Ada perbedaan sensasi antara kereta malam dan kereta pagi. Jika aku
naik kererta pagi (Gajah Wong), aku bisa melihat pemandangan selama
perjalanan. Tetapi jika naik kereta
malam pemandangan tidak terlihat. Yang terjadi malah aku sering membayangkan
sesuatu dan berimaginasi sesuai pikiranku sendiri mau memikirkan apa. Salah
satunya adalah merenungkan sebuah rasa janggal yang disebabkan oleh perbuatan
teman angkatanku di Seminari yang sekarang adalah Frater Dioses Jakarta. Rasa
janggal yang kalau boleh kuminta tidak pernah kualami, tetapi itu sudah
terjadi.
Ah, rasanya seperti malam syahdu, dan mengapa lagu ini ada di
playlist pertama di ipod?
Here
I am waiting
I’ll have to leave soon
Why am I holding on?
We knew this day would come
We knew it all along
How did it come so fast?
This is our last night but it’s late
And I’m trying not to sleep
Cause I know, when I wake, I will have to slip away
And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Here I am staring at your perfection
In my arms, so beautiful
The sky is getting bright, the stars are burning out
Somebody slow it down
This is way too hard, cause I know
When the sun comes up, I will leave
This is my last glance that will soon be memory
And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
I never want it to stop
Because I don’t wanna start all over
Start all over
I was afraid of the dark
But now it’s all that I want
All that I want, all that I want
And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close
And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa (yeah), oh-whoa (yeah), oh-whoa (yeah), oh-oh-oh-oh-oh-oh (yeah)
Oh-whoa (yeah), oh-whoa (yeah), oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
I’ll have to leave soon
Why am I holding on?
We knew this day would come
We knew it all along
How did it come so fast?
This is our last night but it’s late
And I’m trying not to sleep
Cause I know, when I wake, I will have to slip away
And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Here I am staring at your perfection
In my arms, so beautiful
The sky is getting bright, the stars are burning out
Somebody slow it down
This is way too hard, cause I know
When the sun comes up, I will leave
This is my last glance that will soon be memory
And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
I never want it to stop
Because I don’t wanna start all over
Start all over
I was afraid of the dark
But now it’s all that I want
All that I want, all that I want
And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close
And when the daylight comes I’ll have to go
But tonight I’m gonna hold you so close
Cause in the daylight we’ll be on our own
But tonight I need to hold you so close
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa, oh-whoa, oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
Oh-whoa (yeah), oh-whoa (yeah), oh-whoa (yeah), oh-oh-oh-oh-oh-oh (yeah)
Oh-whoa (yeah), oh-whoa (yeah), oh-whoa-oh-oh-oh-oh-oh-oh
(Daylight-Maroon 5)
Yogyakarta,10
Juli 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo
Before The Day Come
I’ll
never say good bye
Because
we’ll meet again
But
now I have to leave you for a while
And
meet you again next time
With
a new form of me…….
“Mereka pun
meninggalkan segala sesuatu lalu pergi mengikuti Yesus.”
Aku tidak pusing
untuk meninggalkan barang/harta benda, tetapi agak sulit bagiku pergi
meninggalkan mereka, walau hanya sesaat :
1. Keluarga P.Sumadi
Sebuah keluarga sederhana yang
maka dari itu nama Prasojo diberikan
kepadaku yang adalah anak terakhir, sebab aku lahir dalam kesederhanaan.
Kesederhanaan juga menjadi sebuah harapan mereka kepadaku agar aku menjadi
orang yang Prasojo. Walau sudah
pernah pisah dengan keluarga selama 4 tahun di Seminari Wacana Bhakti, kali ini
akan menjadi lebih menantang karena aku akan terpisah jauh dari mereka. Mereka
tidak mungkin mengunjungiku setiap bulan, dan aku pun tidak pulang selama
liburan. Jatah liburku 4 tahun sekali. Jika aku pulang sebelum 4 tahun hanya
ada 2 kemungkinan yaitu, pertama ada keluarga kandungku yang harus berpulang, atau kedua aku sudah tidak
diperkenankan untuk melanjutkan masa formasi di Seminari Tinggi ini. Sebenarnya
ada kemungkinan ketiga yaitu aku mengundurkan diri, tetapi aku punya komitmen
yang tinggi untuk tidak akan menyerah dalam situasi apapun. Aku berhenti
setelah Tuhan berkata cukup, dan kuharap Tuhan tidak akan berkata demikian
kepadaku
2. LADOSCO
Mereka adalah keluarga keduaku. Saudara-saudara perjuangan di
Seminari Wacana Bhakti. Bersama mereka aku mendapatkan berbagai pengalaman dan
belajar memaknai hidup di Seminari Wacana Bhakti. Komitmen dan solidaritas kuat
menjadi ciri khas kami. Bersama mereka aku merasakan pengalaman membangun
keluarga(bukan keluarga dalam ikatan darah) mulai dari membentuk fondasi,
merasakan masa krisis dan berusaha melewatinya bersama sebagai saudara. Viva
LADOSCO.
3 3. Misdinar Kalvari
Disinilah api panggilan dalam diriku berkembang. Karena mereka aku
mengenal Seminari Wacana Bhakti. Bersama mereka aku memperdalam liturgy dan
penghayatannya dalam gereja Katolik. Disini juga aku membuat kekacauan dalam
acara pelantikan misdinar baru. Mereka pasti masih ingat kejadian itu, dimana
aku dipercaya menjadi koord sie.acara tetapi malah tidak terorganisir dan kacau
balau. Tentu saja setelah itu diikuti berbagai macam evaluasi yang waktu itu
sempat membuatku kehilangan kepercayaan diri. Tetapi dari pengalaman ini
ternyata menjadi bekal bagiku saat berorganisasi di Seminari Wacana Bhakti,
khususnya saat aku dipercaya oleh Komunitas SWB untuk menjadi Bidel Umum
(sebutan Ketua Osis di Seminari ), dan aneka tanggung jawab kategorial lainnya
dalam Orkestra dan Jurnalistik. Dalam misdinar kalvari juga aku merasakan
pengalaman jatuh cinta, sebuah pengalaman yang cukup memberi warna dalam
dinamika hidup panggilanku. Hehe.
4. Ojanisation
Sekumpulan anak-anak koplak yang mengidolakan artis koplak di
tayangan Sketsa yaitu Ojan. Mereka
adalah teman-teman terdekatku saat aku SMP. Sebenarnya banyak teman dekat, tapi
mereka yang paling dekat. Mereka sudah melanglang buana ke berbagai penjuru
yang sudah sangat sulit untuk kujangkau. Yang kubisa hanyalah mendoakan mereka,
semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi.
5. Musica Sacra de Calvary Chamber
Orchestra
Bersama mereka aku mencicipi aneka musik klasik. Dari mereka aku
mendapat keterampilan baru dalam alat musik yaitu flute. Aku tidak punya flute
tetapi karena aku mau belajar, aku dipinjami oleh mas Adi dan mas Odka. Aku
pernah menyumbangkan 5 karyaku untuk MSdC, yaitu satu set aransemen Ordinarium
C Pustardos dan satu aransemen Bapa Kami ciptaan Pak Putut P. Terima kasih MSdC
atas segala kesempatan dan pengalamannya.
Tulisan ini bukan untuk
perpisahan, hanya sekedar mengingat mereka-mereka yang berjasa memberi warna
dalam menjalani panggilan sebagai seorang seminaris di Seminari Menengah. Kini
aku akan bertemu dengan warna-warna baru di Seminari Tinggi, semoga Tuhan pun
merestui jalanku hingga tuntas seperti Ia menyertaiku saat di Seminari
Menengah.
Langganan:
Komentar (Atom)












