Minggu, 14 September 2014

Karena Hidup Tidak Selalu Datar


Pengalaman Mendaki Puncak Gunung Lawu

Naik-naik ke Puncak Gunung, tinggi-tinggi sekali. 2x
Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara. 2x
Lagu anak-anak di atas terdengar sangat riang, disajikan dengan nada yang ringan dan asyik dilantunkan. Namun lagu itu tidak berlaku bagiku ketika mendengar bahwa kami para Novis akan ikut bersama Frater Skolastikat mendaki Gunung Lawu. Membayangkan tingginya saja sudah membuat badanku pegal, apalagi harus mendaki. Bah, begitulah ekspresi spontan yang keluar dalam diriku.
Aku sadar betul bahwa aku bukanlah orang yang rajin olahraga dan punya fisik yang kuat, maka aku cenderung untuk menghindar dari kegiatan yang ekstrim-ekstrim seperti itu. Tapi, berhubung pilihan keduanya adalah menghabiskan waktu berduaan saja  dengan Magister Novis di Novisiat, saya menguatkan hati dan fisik saya untuk ikut acara mendaki gunung ini. hehehe
Kami mempersiapkan fisik maupun logistic selama akhir bulan Juli menjelang keberangkatan. Mulai “beronthel”  ria sepanjang jalan Kaliurang yang menanjak tidak karuan hingga membeli perlengkapan untuk mendaki gunung. Memang persiapan adalah senjata perang yang paling penting. Bodoh jika orang berperang tanpa membawa senjata.
Kami (Novis dan Skolastik) berangkat ditemani Romo.Ant.Widiatmoko, OMI selaku Rektor Seminari Tinggi OMI, yang juga menyelenggarakan kegiatan mendaki gunung ini. Dari Wisma de Mazenod (Seminari Tinggi OMI) kami memulai perjalanan .
Perjalanan cukup jauh. Dari Jogja kami pergi ke daerah Wonogiri tepatnya daerah Tawangmangu yaitu tempat  awal pendakian gunung Lawu. Rasa kantuk menyerangku dalam perjalanan dan membuatku bahagia menikmati perjalanan.
Sebelum acara pendakian aku menaruh rasa percaya penuh pada perkataan Magisterku itu tanpa memastikan sendiri kondisi aktualnya. Aku sempat merasa dikerjai oleh Magisterku yang mengatakan bahwa, “Puncak Lawu paling hanya 2500an Mdpl, suhu sekitar 15o -18o Celcius. Pake sepatu sandal aja. Malah biasanya pada pake sendal jepit .”
Akhirnya, tidak seperti frater2 lain yang menggunakan sepatu, hanya aku dan Aan yang menggunakan sandal gunung.  Padahal puncak Lawu yang akan kami daki memiliki ketinggian 3265 Mdpl, dengan suhu rata-rata saat siang hari 15 o -  5o Celcius  dan 4o 0o Celcius pada malam hari. Setidaknya itu yang ku rasakan dan memang tertera pada informasi dari Internet. 
Memang bagi yang berpengalaman, memakai sandal jepit untuk naik gunung adalah rekomendasi yang baik, tapi ternyata tidak bagiku yang benar-benar pemula dalam mendaki gunung. Selama perjalanan  telapak kakiku ini berulang kali tertimpa batu yang meluncur jatuh, ataupun beberapa kali tersangkut ranting kayu yang berjatuhan. Tidak jarang juga kaki ini terinjak frater lain yang ikut mendaki mulai dari yang tidak sengaja hingga yang disengaja, seperti yang dilakukan Frater Langet, OMI.
Jujur, bagiku yang lahir dan besar di daerah perkotaan, acara mendaki gunung ini adalah sebuah pekerjaan berat yang butuh perjuangan. Dari pos awal pendakian hingga sampai pos 3 aku masih punya semangat yang membara. Nafasku teratur, jalanku tegap, langkahku mantap dengan sandal gunungku.
 Namun apa daya, sampai di pos 3, jaket yang kugunakan mulai terasa setipis benang. Kugunakan jaket kedua yang kubawa dan tidak memberi efek sedikitpun. Rasa dingin yang belum pernah kurasakan seumur hidupku (di Jakarta suhu terendah adalah 16o Celcius, itupun karena pengaruh AC). Mataku melotot ketika Frater Arki, OMI melihat termometer yang dibawa Frater Denny, OMI menunjukkan angka 0o Celcius. Wleehh, beku sekali rasanya. Akhirnya dalam sedikit keputusasaan kami berhasil menghangatkan diri kami dengan api unggun yang telah kami buat.
Masih ada 2 pos lagi untuk sampai ke Puncak. Aku pun menguatkan tekad lagi agar bisa sampai ke puncak Lawu. Biar bagaimanapun, aku ingin sekali mencapai puncak Lawu dan menikmati pemandangan yang ada di atas sana sebagai suatu pencapaian hidupku. Namun apa boleh dikata, ada pepatah yang berkata “Nafsu besar, tenaga kurang” . Itulah yang terjadi pada diriku. Semangatku memang membakar, tetapi ternyata nafasku juga terbakar. Nafasku mulai terengah-engah ketika beranjak dari pos 3 menuju ke pos 4.
Aku yang tadinya mendaki di barisan depan, akhirnya malah ada di paling belakang bersama Frater Novis Andy (kami akrab memanggil Mas Andy). Inilah penggenapan Injil yang terjadi padaku: “Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (Mat 20 :16). Dan penggenapan Injil yang kedua adalah karena kami akhirnya berjalan berduaan saja dari pertengahan pos 3 menuju pos 4, seperti 2 murid yang berjalan menuju Emaus (Luk 24:13-35). Kami berdua tertinggal jauh dari Frater-frater lain yang fisiknya jauh lebih mantap daripada fisik kami.
Di pos 4 kami hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan perjalanan. Namun ada seekor burung indah yang baru pertama kali kulihat yaitu burung Jalak Bali, menghampiri kami berdua dan seakan-akan menunjukan jalan kepada kami. Kami berdua yang penasaran, akhirnya berjalan beriringan dengan burung Jalak tersebut yang hinggap kian kemari, berpindah-pindah pohon yang sejalan dengan jalur kami. Ternyata burung itu menuntun kami untuk bertemu dengan pendaki lain yaitu Frater Novis Alvin( akrab kami panggil Alvin). Kami mendapatkan teman seperjalanan.
Dengan semangat membara (tapi raga tertatih-tatih) kami bertiga berhasil melewati pos 5 dan hampir mencapai puncak. Kagetlah kami ketika kami naik ke puncak, para frater yang tadi sudah sampai terlebih dahulu hendak turun. Untunglah kami diberi kesempatan untuk tetap menikmati puncak gunung Lawu. Indah benar pemandangan di atas sana.
Aku menyesal telah mengeluh dan khawatir terlalu banyak sebelum berangkat mendaki gunung tanpa membayangkan dulu kenikmatan yang kini bisa kurasakan. Rasanya tidak salah lagu dari Puji Syukur no.707 kulantunkan dalam hati, “Betapa tidak kita bersyukur, bertanah air kaya dan subur. Lautnya luas gunungnya megah. Menghijau Padang bukit dan lembah.” Keindahan dalam lagu itu terealisasi dengan jelas lewat mataku sendiri di puncak Lawu. Betapa puas hati kami bertiga dapat sampai ke puncak Gunung Lawu ini.
Ternyata perjuangan belum berakhir. Tidak kami kira bahwa turun dari gunung membutuhkan perjuangan juga. Rasa lelah mendaki terakumulasi ketika harus menahan berat badan untuk menuruni puncak. Inilah yang kerap terjadi pada kebanyakan orang. Terlalu cepat menganggap enteng suatu perkara. Terlihat mudah namun ternyata sulit juga. Kita kerap mempersiapkan keberangkatan saja seakan-akan setelah sampai di tujuan urusan sudah selesai, padahal masih ada perjalanan pulang yang perlu kita persiapkan pula.
Itulah pengalamanku mendaki dan menuruni gunung Lawu. Tentu aku tidak pulang hanya membawa badan pegal dan encok saja. Aku punya pengalaman berharga ini, dan kujadikan sebagai pembelajaran bagi hidupku, yang selama ini nyaman dilindungi oleh atmosfir Metropolitan kota Jakarta.
 Dari pengalaman ini aku belajar untuk berjuang keluar dari zona nyamanku dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Inilah hidup, inilah kehidupan kita. Hidup kita tidak selalu datar . Perjalanan dan peziarahan hidup kita adalah perjalanan hidup yang dinamis, memiliki kecenderungan untuk naik dan turun.
Keberhasilan memang ada di puncak gunung, tetapi puncak gunung itu bukanlah milik kita sendiri. Ada orang lain yang juga berusaha mendaki dan mencapai puncak gunung tersebut, sehingga kita pun mau tidak mau harus turun dari puncak itu.

Menurut Romo Widi, OMI, banyak manusia siap untuk kesuksesan, tetapi tidak siap menghadapi masa turun dari kesuksesannya. Banyak orang mengalami Post Power Syndrome dan cenderung mudah marah, sentimental dan mudah tersinggung di hari tuanya. Kerap kita merasa nyaman-nyaman saja dengan kedataran kita ini. Kita lupa bahwa masih ada sesuatu yang bisa kita perjuangkan, yang ada di puncak sana. Begitu pula ketika kita sudah menikmati puncak, kitapun harus siap untuk turun dari puncak gunung tersebut. Sekali lagi, karena hidup kita tidak selalu datar .

Yogyakarta, 7 Agustus 2014
The Pilgrim
Henrikus Prasojo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar